SAAT HUJAN TIBA
Siang menjelang senja. Aku masih berada di panti asuhan sedore itu.
Sebenarnya aku ingin pulang bila tidak dicegah oleh Ibu Fatma,pengurus
panti. Karena hari sudah menjelang malam, aku takut kakakku akan
mencariku lagi seperti kemarin. Maka untuk yang kedua kalinya aku
berpamitan kepada Bu Fatma untuk pulang. Alhamdulillah kali ini aku
diizinkan. Memang Bu Fatma sudah menganggapku sebagai anaknya. Karena
beliau sendiri sebenarnya tidak mempunyai anak. Dan akulah yang dianggap
sebagai anaknya, karena dari kecil aku senang sekali main ke panti. Di
panti aku menemukan teman – teman baru. Itulah salah satu alasan kenapa
aku senang bermain di panti asuhan.
Aku
keluar melalui pintu depan dengan diantar oleh Rasyida. Rasyida adalh
salah satu anak panti asuhan yang sering bermain denganku ketika aku di
panti. Ia adalah seorang remaja yang gigih, rajin, tegar dan krisis. Ia
selalu bertanya tentang hidup ini. Betapa rumitnya hidup ini. Ia pun
belajar dari setiap pengalaman hidupnya. Dn dari setiap realita
kehidupan yang pernah ia jalani di sepanjang hidupnya. Jujur saja aku
kalah dengannya. Walaupun aku lebih tua darinya. Tapi yang namanya orang
pasti berbeda – beda. Berbeda kepribadiannya, sifatnya maupun caranya
dalam menyikapi hidup ini. Ia begitu arif dalam menyikapi hidupnya. Ya,
dialah Rasyida. Rasyida yang cantik, Rasyida yang mungil, Rasyida yang
tegar dalam menjalani hidup ini.
Aku
tersenyum kepadanya sebelum meninggalkan panti asuhan itu. Rasyida pun
membalasnya dengan senyuman pula. Kemudian aku mulai menjalankan
sepedaku. Kutelusuri setiap jalan berliku. Kadang aku heran juga, kenapa
tidak ada yang peduli dengan kerusakan jalan ini? Bahkan pemerintah
seperti acuh tak acuh menanggapinya. Aku sendiri kadang juga bingung,
bagaimana cara berfikir bangsa kita ini? Terutama pemerintah. Ah..aku
sudah tidak tahu lagi apa yang ada di otak mereka.
Gerimis
membuyarkan lamunanku. Di tengah jalan sepi ini aku hanya sendiri.
Takut juga ternyata bila sendiri di tempat yang belum pernah kulewati.
Aku memang sengaja lewat jalan ini, karena kupikir lebih dekat dengan
jalan raya. Tapi malah hujan. Hufdt........Kalau saja aku tadi menelepon
Kak Fidan, mungkin kejadian ini takkan pernah terjadi.
Kupercepat
genjotanku. Tapi tiba – tiba saja hujan deras mengguyur setiap sudut
jalan yang kulalui. Untung saja aku sudah sampai jalan raya. Dan dekat
pula dengan tempat untuk berteduh. Dan yang kulihat pertama kali adalah
halte bus. Langsung saja tanpa pikir panjang aku berlari dan
meminggirkan sepedaku. Lalu aku duduk di samping seorang pria yang masih
mengenakan seragam sekolahnya. Aku sendiri sudah tidak
memperhatikannya. Karena kupukir dia mungkin sedang sibuk dengan buku
kecilnya itu. Kulihat jam tanganku. Jarum jam menunjukkan pukul 16.45.
Wah...gawat. Pasti Kak Fidan mencariku.....
“Hai,
kamu lagi nunggu bus juga?”,seketika jantungku berdetak dengan cepat.
Cowok itu memanggilku? Oh My God.....Aku pikir ia akan diam dan sibuk
memperhatikan buku kecilnya itu. Tapi ia malah memanggilku....
“Nggak
kok. Aku lagi berteduh. Abis hujannya deras banget. Kamu sendiri?”,aku
bertanya padanya. Rasanya seperti disetrum ribuan listrik. Aku tidak
percaya bisa menghadapi cowok seperti dia. Padahal aku kan paling nggak
bisa berkomunikasi kalau sedang sama cowok. Mati kutu dech..
“Aku
lagi nunggu bus. Lama banget. Padahal aku dah nunggu dari jam
3-an”,jawabnya. “Oh iya, nama kamu siapa?”,tanyanya lagi. Kali ini ia
melihatku dan berhenti membaca buku kecilnya itu.
“Namaku Evi”,jawabku sambil mengulurkan tangan. “Kamu?”,lanjutku.
“Aku
Ivan..”,jawabnya sambil menyambut uluran tanganku. Tangannya terasa
dingin. Dan aku merasakan itu. Kuberanikan diri untuk menatapnya. Lalu
ia tersenyum padaku. Semakin tak karuan pula perasaanku. Kulepaskan
tanganku dari tangannya. Kini aku tak bisa berkata apa – apa lagi selain
diam dan malu. Aku sungguh malu...Apakah ini yang dinamakan cinta pada
pandangan pertama? Atau, rasa apa yang sedang kurasakan sekarang ini?
Apakah aku terlalu naif untuk menanggapinya? Ini benar cinta? Atau hanya
perasaan suka semata?
Aku
dan Ivan berbincang – bincang. Kami mengobrol tentang apa saja. Obrolan
kami berlangsung seru. Aku memperhatikan setiap kata yang keluar dari
mulutnya dengan serius. Seperti sedang menonton acara favoritku di TV.
Kami tertawa bersama, dan aku sungguh tak yakin dengan semua ini.
Ternyata aku bisa akrab dengan orang lain tanpa membutuhkan waktu lama.
Padahal aku termasuk orang yang tak banyak bicara dan pemalu. Justru aku
lebih senang berbicara dengan diriku sendiri. Tapi, kali ini aku
seperti menemukan emas, berlian atau harta karun yang entah kutemukan
dimana.
Obrolan
kami terhenti ketika sebuah bus datang. Ivan berlari dan memasuki bus
itu. Sebenarnya aku kecewa, kenapa dia tidak memberikan salam terakhir
sebelum pergi? Namun kekecewaanku berkurang ketika aku mendengar
teriakannya dari jendela bus.
“Evi.....senang mengenalmu....”,teriaknya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Akankah aku bisa bertemu dengannya lagi..?
@@@@@
Siang
ini aku pergi ke panti. Aku ingin menengok teman – temanku yang ada
disana. Mungkin sekaligus mampir ke halte untuk melihat apakah Ivan ada
disana. Aku berharap Ivan ada disana. Tapi aku tak yakin harapanku ini
akan terwujud. Dan aku pun tak yakin pula bila ia masih menungguku
sesore ini.
Kucoba
melewati halte itu. Sepi. Tak ada satupun makhluk yang terdapat di
setiap sudut halte bus itu. Aku hanya memandang tanpa bicara. Batinku
sedang berperang membicarakan asumsi – asumsiku tentang Ivan. Kuputuskan
untuk meninggalkan halte dan melanjutkan perjalananku ke tujuan semula.
Sampai
di panti, aku hanya diam tanpa berkata apa – apa. Seperti sedang
kehilangan barang yang kusayangi. Tapi Ivan bukan barang kan?
Rasyida
yang dari tadi memperhatikanku kini telah datang menhampiriku. Ia terus
saja mengajakku bermain. Apa saja. Mungkin ia ingin menghiburku karena
ia tahu bahwa aku sedang bersedih. Namun aku hanya diam. Itu bukti
penolakanku. Tapi Rasyida tidak berhenti merayuku. Anak ini memang punya
seribu akal,batinku. Akhirnya aku mau bermain dengannya. Walaupun agak
terpaksa.
Lama
sudah aku bermain dengannya. Hingga kulihat jam, ternyata sudah pukul
15.55. Aku berpamitan kepada Bu Fatma. Dengan terburu – buru aku
menjalankan sepedaku. Aku berharap hari ini hujan turun sehingga Ivan
berteduh di halte. Tapi, hanya sedikit kemungkinan itu bisa terjadi.
Sebab, untuk apa ia berteduh di halte sedangkan banyak tempat yang bisa
ia gunakan untuk berteduh selain halte.
Mataku
terus saja menelusuri setiap sudut halte bus itu. Aku kira Ivan tidak
ada disana. Yang kulihat hanyalah orang – orang yang sama sekali tak
kukenal. Aku tetap manyun pada posisi semula tanpa menghiraukan orang –
orang itu.
Setelah
hujan reda, aku mengambil sepedaku yang kuletakkan di pinggir halte
untuk kemudian mengendarainya. Aku sedikit tergesa. Sebenarnya dalam
hati ingin marah,tapi marah kepada siapa? Kepada haltenya? Atak kepada
busnya? Dengan alasan apa coba? Sama saja bodoh dan membiarkan orang
menyebutku dengan gelr “orang gila”.
@@@@@
Rasa
ini muncul setelah kau datang. Rasa yang belum pernah kukenal
sebelumnya. Karena kau, aku mengenal rasa itu. Aku mengagumimu dengan
rasa. Aku menyukaimu karena sikapmu. Aku menginginkanmu bukan karena apa
yang kau punya. Wajah, penampilan, dan semua yang ada di luar.
Menurutku itu semua adalah penilaian terakhir.
Aku menyukaimu karena jiwa yang kau miliki.
Senin malam, di depan cermin..
Kututup diaryku dan kukembalikan pada tempatnya semula. Lalu aku bersiap – siap untuk tidur memasuki alam mimpi.
@@@@@
Dua
minggu telah berlalu. Dan selama itu aku masih belum menemukn tanda –
tanda kehadiran Ivan. Apakah ia menunggu bus lebih awal dari sebelumnya?
Ataukah ia memang tidak pernah lagi menunggu bus di halte itu? Batinku
terus saja berperang.
Saat
melewati halte aku seperti cuek saja. Mungkin memang Ivan sedang tidak
ada disana. Dan aku pun yakin, dari sekian banyak orang yang ada di
halte itu, Ivan tidak ada di antaranya. Namun tiba – tiba ada yang
memanggilku.
“Evi..”,panggilnya.
Aku pun berhenti dan menengok. Kulihat dengan seksama wajah orang yang
telah memanggilku dari kejauhan. Kuhampiri dia. Setelah agak dekat,
barulah aku mengenalinya.
“Ivan..”,sapaku heran. Dalam hati sebenarnya malu untuk menyapanya, namun kuberanikan diri.
“Apa kabar, Vi?”,tanyanya.
“Baik”,jawabku. “Kamu sendiri?”,lanjutku. Lalu aku duduk di sampingnya. Dan ia menggeser posisi duduknya.
“Kamu
sekarang kok jarang nunggu bus di halte ini?”,pertanyaan itu keluar
begitu saja dari mulutku. Aku sendiri sampai heran kenapa aku bisa
seberani itu.
“Oh....aku
emang jarang naik bus sekarang. Soalnya aku kemarin – kemarin diantar
temanku”,jawabnya penuh ekspresi. Ternyata tepat sekali perkiraanku
bahwa ia tidak naik bus lagi hari itu. Aku bersyukur bisa melihatnya
lagi hari ini.
Di
tengah teriknya sinar matahari, aku dan Ivan kembali melanjutkan
obrolan kami yang terunda. Hmm....aku tak bisa berpaling dari wajahnya.
Tanpa rasa curiga, ia membiarkanku memandangi wajahnya yang good looking
itu. Aku masih berharap ia akan datang lagi esok dan seterusnya. Ini
aku dan harapanku. Kembali ke masa itu, ketika sebuah gerimis mengundang
hujan. Hingga kunanti saat hujan tiba.....

0 comments:
Post a Comment