Sunday, January 31, 2016

EPISODE 4

Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan di pintu. Rena buru-buru mengusap air matanya dan mengembalikan tissue ke kamarnya. Ia pun segera memutar kunci pintu dan membukanya pelan.

    Di depan pintu berdiri seorang wanita yang tidak lain adalah Mbak Rini, anak pemilik kost yang dihuninya tersebut. 

    “Sendirian, Ren?”,tanyanya tanpa menghentikan langkah. Ia segera masuk dan duduk di depan televisi sambil melepas sepatunya.

    “Iya, Mbak. Veda lagi keluar”,jawabnya tanpa beranjak.

    Rena yang masih berdiri di dekat pintu pun berjalan menuju motornya Pak Salim yang diparkir di dekat tembok rumah bagian kiri. Ia melihat ke spion, memperhatikan apakah matanya bengkak karena menangis atau tidak. Karena ia malu kalau sampai terlihat oleh Mbak Rini. Bisa diledek sampai tujuh turunan, nih!

    Ketika sedang asyik mengaca, ia melihat seseorang yang sedang berjalan di depan rumah kostnya. Cowok yang dikenalnya. Bagas. Ya, dia Bagas. Rena pun buru-buru menghampiri pagar dan menyapanya.

    “Hey, kok bisa nyampek sini?”,serunya. Ia tersenyum ke arah cowok itu.

    Tapi cowok itu celingukan lihat kiri kanan dan ke belakang. Lalu ia berkata, “Ngomong sama saya?”.

    Rena heran beberapa saat. Itu kan Bagas, kok jadi aneh? Kayak nggak ngenalin gue? Apa gue beda ya kalo udah ada di rumah gini? Ia pun meraba pipi dan anggota tubuh yang lain. Pantesan masih sama, deh!

    “Iya, sama lo. Kok ada disini?”,katanya tetap yakin bahwa orang yang ada di depannya itu Bagas.

    “Sorry, lo kenal sama gue?”,tanyanya tidak mengerti.

    “Loh? Lo lupa sama gue?”,Rena balik bertanya.

    Cowok yang dikenalinya sebagai Bagas itu merasa aneh dengannya. Nih cewek, kenal juga enggak, tapi dari tadi senyum mulu. Jangan-jangan gila?

     Ia pun bergegas pergi sebelum ditanyai Rena lebih lanjut.

    “Hey, kok malah pergi sih?”,teriak Rena.

    Cowok itu tidak menengok sama sekali. Ia tetap berjalan lurus ke depan tanpa menggubris teriakan Rena. Akhirnya Rena cuma melongo dan masuk ke dalam rumah.

*****

    Veda masih menunggu bus di halte setelah bertemu dengan Albi dan Siska di Golden Caffe. Mereka berdua sudah pulang terlebih dahulu karena membawa motor, sementara Veda yang berangkat naik bus harus terima pulang dengan bus lagi. Ia mulai membuka-buka buku yang dibawanya.

    Saat ia ingin membaca buku, justru ia tidak bisa konsentrasi. Dalam hatinya ia selalu berandai-andai, andai saja ada seorang cowok, ya, cowok itu, yang datang menghampirinya saat ini dan mengantarkannya pulang. Pasti ia tidak perlu menunggu bus lama-lama. Apalagi cowok itu mengajaknya jalan-jalan sebentar, mumpung masih jam tujuh. Karena pagar kost akan dikunci pada pukul sembilan malam. Itu sudah peraturan. Dan ia tetap mengingatnya sampai sekarang.

    Maka Veda harus menikmati waktunya di halte saat itu. Ia yang dari tadi berdiri akhirnya duduk sambil membuka dan membaca novel yang tadi dipinjamnya di perpustakaan. Lima belas menit kemudian ia mendengar sebuah motor mendekat. Ia mengira itu motor seorang tukang ojek yang akan menawarinya tumpangan berbayar sampai ke rumah kost. Segera saja ia memasukkan novelnya ke dalam tas dan beranjak dari posisi duduknya. Eh, saat ia melihat ke arah motor itu, ternyata motornya seorang bapak-bapak. Mana genit, lagi!

    Cliingg...ucap mata bapak itu, seolah bersuara. Dan Veda memang membayangkannya seperti itu. Lalu ia bergidik.

    Akhirnya ia duduk lagi di tempatnya semula. Ia pun mengambil bukunya lagi dan meneruskan ke halaman berikutnya. Sedang asyik membaca, ia diganggu oleh suara motor lagi. Ia tidak mau terjebak lagi, pasti bukan suara tukang ojek. Veda tidak bergeming, ia tetap melanjutkan membacanya.

    Tapi, suara motor itu kian berisik. Ia sampai terganggu oleh suaranya yang semakin di gas itu. Mentang-mentang bawa motor, mau seenaknya saja mengganggu hak asasi manusia seorang Veda yang tengah membaca, gerutunya.

    Veda pun mengangkat wajahnya dan hendak menegur orang itu. Ketika ia melihat wajah orang itu, ekspresi wajahnya sendiri berubah. Ia pun menelengkan kepalanya sedikit, merasa tidak percaya.

    “Kita ketemu lagi”,kata orang itu menghentikan motornya.

    “Kok kamu bisa ada disini?”,kata Veda, salah tingkah.

    Cowok itu pun melepas helmnya dan turun dari motornya lalu berjalan menghampiri gadis itu. Ia duduk di samping Veda.

    “Abis pulang dari rumah temen lewat sini, eh ngeliat kamu”,ujarnya tanpa memalingkan wajah dari Veda.

    Veda tidak bisa menjawab. Speechless. Melihat wajah cowok ini saja hatinya sudah bergetar, bagaimana kalau diajak mengobrol begini? Bisa-bisa pecah berkeping-keping saking bahagianya. Akhirnya ia hanya manggut-manggut sambil tersenyum.

    “Nungguin bus, ya?”,tanyanya.

    “Iya, nih. Udah setengah jam aku nunggunya”,jawab Veda agak canggung.

    “Kalo ditungguin lama. Mendingan pulang sama aku. Aku mau nganterin kamu”,ia menawarkan diri.

    “Aduh, gimana, ya? Nggak ngerepotin kamu, Zal?”,Veda makin sungkan dengan cowok itu. Dari dulu selalu menawarkan untuk mengantar pulang.

    Cowok yang dipanggilnya Rizal itu menjawab,“Nggak kok. Yuk, bareng aja”.

    Veda pun akhirnya menurut. Rizal mengambil helm yang ada di jok motornya dan menyerahkannya pada Veda. Veda memakainya dan mereka melaju menuju kost Veda. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Hanya beberapa kali mengobrol karena Rizal tidak tahu arah rumah Veda.

    Sampai di gang rumah kostnya, Veda minta berhenti. Ia pun turun dan menyerahkan helm kepada Rizal.

    “Nggak enak sama tetangga kalo dianterin cowok”,kata Veda.

    “Oh, jadi rumah kamu di daerah sini? Aku punya temen loh, di sekitar sini!”,kata Rizal tersenyum ke arahnya.

    “Oh, ya? Siapa?”,tanya Veda.

    “Ada deh”,jawab Rizal sambil tertawa. 

    Kalau lagi tertawa, Rizal emang terlihat manis. Dan Veda mengakuinya.

    “Ah, pasti cewek, ya?”,Veda sedikit penasaran.

    “Bukan kok”,kata Rizal.

    “Udah, sana pulang, nggak enak juga kita ngobrol disini”,lanjutnya.

    “Iya, deh. Kamu juga hati-hati ya kalau pulang”,pesan Veda.

    Sebelum pulang ke rumah masing-masing, mereka saling melempar senyum. Dan akhirnya Rizal melaju di jalanan. Veda pun berjalan ke arah rumah kostnya. Bi Inem membukakan pintu untuknya.

    “Rena mana, Bi?”,ucapnya pertama kali ketika sudah masuk rumah.

    “Di kamar, Non”,jawabnya.

    Veda pun pergi ke kamar Rena. Ternyata Rena tidak ada di kamar. Ia mencarinya, sampai akhirnya ketemu di lantai atas, di kamar Mbak Rini. Mereka berdua sedang menonton film.

    “Aduh, gue cariin ternyata lo ada disini”,seru Veda di depan pintu kamar Mbak Rini.

    Mbak Rini memang selalu membuka pintu kamarnya kalau ada temannya yang sedang masuk. Ia pun tersenyum dan mempersilakan Veda untuk masuk.

    Kamar Mbak Rini sangat luas. Ada dua lemari pakaian di kamarnya yang ditempatkan berjajar di dekat pintu kamar. Ada juga meja rias yang berjarak dua setengah meter dari pintu, dan televisi serta meja kerja berurutan di sebelahnya. Ranjang Mbak Rini berada di tengah-tengah ruangan tapi dekat sekali dengan tembok bagian ujungnya.

    Mbak Rini juga memiliki bermacam-macam koleksi aksesoris yang pernah ditunjukkannya dulu. Sekarang aksesories tersebut tergantung rapi di tempatnya, di sebelah meja rias. Selain itu, Mbak Rini hobi sekali beli baju. Jadi, lemari pakaiannya ada dua. Rena saja sampai iri dibuatnya.

    Kamar Mbak Rini ini selain bersih dan rapi juga wangi, selalu disemprot pengharum ruangan, nih. Itulah yang membuat setiap penghuni kost betah di kamarnya setiap kali diajak nonton film VCD. Tak terkecuali Rena dan Veda.

      “Kamu tadi dari mana Ved?”,tanya Mbak Rini setelah Veda duduk di dekatnya.

   “Dari Golden Caffe, ngerjain tugas, Mbak. Maklum, lagi banyak tugas, bikin puyeng”,jawabnya sembari memegangi kepalanya dan berlagak pusing.

    “Kamu baru kuliah aja udah pusing, Ved. Lihat aja nanti di dunia kerja kamu bakal lebih pusing lagi!”,ujar Mbak Rini.

    “Wah, ternyata ada yang lebih pusing daripada ngerjain tugas kuliah”,Veda pura-pura mengeluh.

    “Ya itu namanya hidup. Kalo udah puyeng, kita bakal lebih puyeng lagi. Tinggal kamu aja yang milih puyeng atau enggak. Tapi kalo aku sendiri sih lebih milih yang puyeng, Ved”,Mbak Rini menjelaskan. Matanya tetap fokus pada film yang sedang ia tonton.

    Veda membalasnya dengan senyum.

    “Kenapa Mbak milih jadi puyeng? Kan capek kalo lama-lama puyeng!”,komentar Veda.

    Mbak Rini pun menoleh ke arahnya.

    “Ini, nih. Anak muda sekarang pasti pikirannya cupet gini. Aku jelasin, ya, semakin kamu puyeng, semakin kamu ngerasain sensasi kehidupan”,jawab Mbak Rini sungguh-sungguh. Ia memperhatikan layar televisi lagi.

    Rena dari tadi diam menikmati film yang sedang diputar di layar televisi. Rena memang penggemar film. Dia bisa menonton film berapapun dalam sehari. Pinjam VCD di rental aja bisa sampai lima. Tapi, dia baru bisa nonton kalau Mbak Rini udah pulang, soalnya yang punya DVD kan cuman Mbak Rini di rumah itu. Dia pun memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, berhubung mood anak pemilik kost itu sedang baik. Kalo lagi stress masalah pekerjaan dia suka ngamuk. Kadang sama Bi Inem, sama Dewi yang sukanya pasrah kalo dimarahin, dan yang terakhir sama Pak Salim. Kasihan juga korban-korbannya. Tapi, Mbak Rini kalo lagi baik juga baik banget. Sayang aja pas mood nya nggak enak, dia jadi beringas.

    “Pulang sama siapa kamu tadi, Ved?”,tanya Mbak Rini masih fokus pada film yang sedang ditontonnya.

    Veda yang diberi pertanyaan seperti itu langsung menunduk malu. Pipinya jadi merah. Jadi salah tingkah seperti tadi saat ditemui Rizal di halte.

    “Kok diem? Hayoo, pasti ada sesuatu nih”,ulang Mbak Rini setelah menunggu jawaban Veda beberapa saat.

    “Apaan sih,  Mbak. Nggak ada apa-apa kok”,jawab Veda menyembunyikan pipi merahnya.

    Rena yang sejak tadi asyik menikmati film, tiba-tiba menoleh ke arah Veda. Dengan berpura-pura kaget, ia melihat ke arah temannya.

    “Lo dianterin sama pujaan hati lo yang di Facebook, Ved?”,tebaknya. Rena memang gampang sekali menebak sesuatu. Sesuatu yang justru dilontarkan dari mulutnya secara spontan adalah jawaban yang tepat bagi orang lain yang memberinya pertanyaan.

    Veda tidak bergeming sampai akhirnya kedua gadis itu, Rena dan Mbak Rini menatap tajam ke arahnya serta memancingnya untuk bercerita.

    “Iya, deh gue ngaku. Iya”,jawabnya. Nggak ada pilihan lain, ngaku aja.

    “Hah..so sweet. Gue juga mau dong kayak gitu”,Rena memasang tampang sok berharap. Mbak Rini hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

    “Kalian ini, udah pada pacaran”,kata Mbak Rini tetap memperhatikan layar televisi.

    “Bukan pacaran, Mbak. Tapi pedekate, pendekatan lah”,sahut Rena tidak terima.

    “Pedekate kan awal dari pacaran, Ren”,bantah Mbak Rini.

    “Iya, deh ngalah sama yang tua”,katanya mencibir ke arah Mbak Rini.

    “Ih, ngeledek. Tua-tua begini, yang penting kan jiwanya muda”,balasnya.

    Semua anak kost memang akrab dengan Mbak Rini. Sifatnya yang gampang membaur dengan lingkungan itu membuatnya disegani banyak orang. Mbak Rini juga tidak pelit kalau dimintai tolong. Pokoknya Veda dan Rena sudah menganggap Mbak Rini sebagai kakak mereka sendiri, begitupun sebaliknya, meskipun mereka baru kenal kurang lebih satu tahun yang lalu.

    “Oh, iya, Ved. Gue tadi ketemu Bagas di depan. Tapi kok kayak nggak ngenalin gue gitu, ya?”,lanjut Rena.

    “Masa sih? Kok aneh gitu?”,Veda memperhatikan sahabatnya. Rena kalau lagi mikir emang lucu, suka bergerak-gerak gitu bibirnya. Itu juga yang membuat Veda tertarik untuk memperhatikannya.

    Sementara kedua sahabat karib itu mengobrol, Mbak Rini ganti memelototi layar televisi untuk menyaksikan kelanjutan film yang ditontonnya bersama Rena tadi. Ia sudah biasa ditinggal ngobrol begitu. Yang penting nggak ditinggal pergi aja, deh. Dia paling takut kalau hal yang satu itu. Biasanya ada Maya yang kamarnya berdekatan dengan kamar Mbak Rini. Tapi sekarang Maya lagi pulang kampung. Jadi, Mbak Rini sendirian di kamar sepanjang malam. Itu yang membuatnya nggak bisa tidur.

    “Iya, padahal kan tadi siang di kampus kita ngobrol bareng. Gue nggak yakin kalo dia amnesia!”,kali ini Rena mengusap-usap dagunya. Seperti seorang detektif yang memikirkan metode apa yang harus digunakannya dalam memecahkan masalah.

    “Lo juga ada-ada aja. Mana ada orang amnesia dalam sekejap. Kan dia nggak mengalami kecelakaan atau apa!”,Veda sok bijak. Menerangkan dengan gayanya yang dibuat-buat.

    “Emang, makanya, gue aneh aja. Apa dia emang punya penyakit pelupa, ya?”,katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya.

    “Pelupa sih pelupa, tapi kalo masih muda terus gampang lupa dalam waktu sehari, itu namanya pikun, Ren”,timpal Veda.

    Veda tertawa. Mbak Rini yang mendengarnya ikut tertawa juga.

    “Berarti dia orang muda yang paling cepat punya penyakit pikun”,sahut Mbak Rini. “Jangan-jangan ubannya udah bejibun lagi”.

    Tawa mereka semakin menjadi-jadi. Anehnya, Rena sama sekali tidak tertawa. Ia justru semakin keras berfikir. Seperti memikirkan ulangan fisika yang satu soal pun tidak bisa dikerjakannya.

    “Masa sih dia pikun?”,Rena berfikir.

    “Mana gue tahu. Udah yuk, kita ke kamar. Nanti malah ganggu Mbak Rini, lagi”,ucap Veda.

    “Nggak papa, kok. Ngobrol aja. Lagian aku juga nggak ada temennya”,jawab Mbak Rini.

    “Asyik tahu ditemenin kalian berdua. Jadi nggak kesepian aku”,sambungnya.

    “Yaudah, deh. Kita temenin Mbak Rini”,kata Rena dan Veda serempak seperti menyambut bintang tamu yang akan menari tor-tor.

    Mereka bertiga menghabiskan malam minggunya dengan bermain monopoli di kamar Mbak Rini sampai esok paginya mereka ketiduran di kamar wanita itu.

    Paginya, Veda dan Rena kembali ke kamar masing-masing. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Mereka melanjutkan tidur di kamar. Setelah pukul sembilan pagi, baru Veda bangun kemudian mandi. Badannya segar kembali setelah dibasuh dengan air dingin dari kamar mandi.

    “Wah, Rizal pagi-pagi udah online aja”,gumam Veda pada saat ia selesai mandi dan menyalakan komputernya. Rambutnya yang masih basah dibungkus dengan handuk.

    Ia melihat ke layar. Disitu terpampang jelas sebuah foto. Foto Rizal yang sedang berdiri di sebuah jembatan bersama teman-temannya. Baru saja diupload. Mereka masing-masing bergaya sesuka hati. Ada yang alay, biasa aja, setengah cool, dan yang paling cool pun ada disitu. Tapi, bagi Veda, hanya gaya Rizal saja yang keren alias cool.

    Cowok ini keren banget, makannya apa sih? Komentar Veda dalam hati. Ingin rasanya ia membagi cerita bersama Rena. Namun, ia takut kalau nanti dipublikasikan malah nggak jadi. Kayak dulu waktu sama Andi. Udah serius sama dia tapi malah diselingkuhin. Makanya Veda nggak mau cerita sama siapa-siapa kalo dia lagi deket sama cowok. Nanti udah diceritain kemana-mana malah nggak jadi. Ia sudah belajar dari pengalamannya yang lalu dengan Andi.

    Pokoknya gue nggak mau inget-inget tuh cowok, si Andi! Selalu hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya setiap kali ia ingat namanya. Malah rasa kebenciannya semakin mendalam. Selalu ia pupuk sampai akar-akarnya loncat keluar dan tumbuh setinggi-tingginya. Untung saja sampai sekarang ia sudah tidak mendengar kabar dari cowok itu lagi. Ia bersyukur sekarang Andi sudah seperti hilang di telan bumi dan tidak muncul di hadapannya lagi.

Tuesday, January 26, 2016

EPISODE 3


“Aduh, maaf. Gue tadi refleks. Abis, gue kira temen gue laagi jahil gitu”,katanya sembari merapikan tatanan rambutnya.
“Nggak, apa-apa. Kalo emang tadi lo mau mukul gue pake buku itu, pasti nggak bakal kena. Orang gue punya penangkalnya, nih”,balasnya, mengangkat tas laptop jinjingnya ke arah Rena. Ia pun tertawa.
            “Lo ternyata punya jurus yang ampuh juga, ya. Oh, iya. Ada apa?”,tanyanya. Rena baru ingat kalau Bagas masih berdiri di dekatnya. “Duduk aja sini, jangan berdiri gitu. Ntar disangkanya lo wartawan yang bilang ‘permisi, saya mau wawancara dong’”,Rena memperagakan seorang wartawan yang hendak mewawancarai artis kece se-level dirinya.
            “Iya, permisi, ganggu ya, Mbak. Mau ngeliput, dong”,ganti Bagas yang jadi wartawan. Mereka pun tertawa. Bagas duduk di bangku yang tersisa di sebelah Rena.
            “Serius deh, serius. Ada apa, sih emangnya?”,kata Rena sambil tersenyum
            Bagas juga tersenyum ke arahnya.
            “Nggak ada apa-apa. Gue sebenarnya mau tanya, ‘sendiri aja?’, tapi keburu lo putus, sih!”,kata Bagas.
            Sorry, deh. Iya, nih. Tadi ada temen gue. Tapi, sekarang dia udah pergi. Mau ngetik tugas katanya”,jawab Rena mulai bisa menguasai keadaan.
            “Lo fakultas apa sih?”,Bagas bertanya.
            “Gue anak TI, lo?”,Rena ganti bertanya.
            “Gue ekonomi”,jawab Bagas singkat.
            “Oh, gitu. Udah semester berapa?”.
            “Baru semester dua. Lo?”.
            “Sama”.
            Mereka berdua terlibat dalam sebuah pembicaraan. Mereka saling bertanya satu sama lain. Kadang keduanya tampak tersenyum, kadang pula tertawa, berirama tergantung apa yang sedang mereka bicarakan. Rena mulai mengerti kalau Bagas itu nggak terlalu jaim seperti yang disangkanya. Dia malah pandai mengakrabkan diri. Nggak rugi, deh, Rena bisa ngobrol sama dia sekarang.
Pembicaraan mereka selalu berganti-ganti topik. Membicarakan Rena, kehidupannya, dan alasan mengapa ia meneruskan perjalanan hidupnya di kampus ini. Lalu Bagas yang menjawab kenapa ia ada di sini dan tujuan ia menjalaninya dengan baik.
“Ya, sebenarnya karena bokap gue kuliah di ekonomi”,jawabnya. “Gue nggak ada minat sama sekali, sih. Eh, tahunya waktu udah dapet satu semester, kecintaan gue mulai muncul, deh. Untung nggak ada wartawan yang tahu, ya. Kalau ada, bisa-bisa gue malu. Gue gengsi kalo semua orang tahu”.
“Gengsi? Kenapa gengsi?”,Rena bertanya-tanya.
“Oh, iya, gue tahu! Karena semua orang mengira lo munafik, kan? Yang awalnya nggak suka jadi suka. Hayoo, ya, kan?”,rasa penasaran Rena membuatnya jadi semakin menjadi-jadi.
“Bukan, lagi. Itu namanya kena karma, bukan munafik!”,jawab Bagas.
Rena tertawa terbahak-bahak.
“Jadi maksud lo, lo kena karma gara-gara bilang nggak suka sama fakultas yang lo ambil, gitu?”.
“Iya, lah. Emang apa lagi yang ngebuat gue tiba-tiba suka kalo nggak karena karma?”,balas Bagas.
“Emang ada yang begituan?”,tanya Rena.
“Kalo lo udah ngalamin sendiri, nggak bakal deh lo tanya gitu!”,jawabnya.
Mereka terus saja memperbincangkan hal yang paling unik yang pernah mereka alami. Sampai-sampai Rena tidak bisa berhenti tertawa karena kecerdasan Bagas membuat banyolan-banyolan seru. Ia jadi sakit perut mendengarkan ocehan Bagas yang ternyata pandai ngebanyol itu.
Nggak sangka, anak yang gue kira jaim justru nggak punya sisi jaim sekali pun. Kalo gue tahu dia bakan segila ini, besok-besok gue harus siap mental, nih. Jangan sampai gue jadi ketularan bayolan dia! Rena terus berkomentar dalam hati.
Tanpa terasa, sudah satu jam mereka berbincang. Rena pun tidak ingat kalau ada janji dengan Veda di kantin untuk pulang bareng. Veda yang dari tadi menunggunya pun akhirnya meneleponnya. Dengan segera ia mengangkat telepon dari sahabatnya itu. Lalu terdengar guntur memekakan telinga.
            “Oh, iya, lupa gue! Ya udah, gue on the way kesana nih”,jawab Rena. Ia pun berpamitan kepada Bagas dan pergi juga ke kantin. Bagas juga pergi, tapi berlawanan arah dengan kepergian Rena.
Di kantin Rena melihat sahabatnya menunggunya dengan memasang tampang cemberut. Matanya sipit dan seolah-olah siap memaki bahkan menghantamnya dengan pukulan yang sangat tajam. Rena pun tersenyum ke arahnya untuk menghilangkan ketegangan.
            “Lama banget, sih? Udah tahu malam Minggu, kost kita sepi nih. Harus buru-buru pulang sebelum Mbak Rini berangkat kerja”,omelnya pada Rena.
            “Iya, sorry, deh. Gue keasyikkan ngobrol sama Bagas”,ujar Rena.
            Veda pun berdiri dan mereka mengobrol sepanjang perjalanan pulang.
            “Bagas yang anak teknik?”,tanya Veda heran bercampur lucu. Ia tidak tahu sahabatnya dapat angin dari mana sampai bisa mengobrol dengan Bagas anak teknik yang dimaksudnya itu. Padahal Rena pernah bilang kalau dia alergi dekat-dekat dengan anak itu selama lebih dari satu menit.
            “Lo kayaknya sama aja, deh sama Pandu. Emangnya yang namanya Bagas di dunia ini cuman Bagas itu doang?”,protes Rena.
            Veda berusaha menahan tawanya. Pipinya sampai menggembung karena saking kuatnya ia menahan tawa.
            “Ya, nggak sih. Emang Bagas siapa? Gue belum pernah denger tuh temen lo yang namanya Bagas selain..”.
            “Bagas anak teknik”,potong Rena.
“Udah deh, ya. Pikiran lo cuman dia mulu! Bagas yang gue maksud ini Bagas yang lain. Dia itu cowok yang ketemu sama gue di rumah sakit kemarin. Yang gue ceritain sama lo”,Rena menyedekapkan lengan. Berusaha memancing minat sahabatnya oleh cerita yang selalu diulang-ulangnya beberapa kali. Veda sampai bosan mendengarnya.
            “Dia ngampus disini juga?”,tanya Veda sedikit heran.
            “Fakultas Ekonomi, tahu”,jawab Rena bangga.
            “Oh, ya? Hebat, dong!”,pujinya.
            “Nada lo kayak nggak ikhlas gitu?”,kata Rena memandang Veda dengan mata sipit. “Itu pujian apa ledekan?”.
            Pertahanan Veda pecah. Ia akhirnya menyuarakan tawanya. Rena paling benci mendengar itu. Sebuah ledekan yang diawali dengan pujian.
            “Enggak, gue tuh justru bersyukur lagi lo bisa dapet kenalan juga. Jadi kita bisa sama-sama punya pacar. Syukur-syukur kalo jadiannya bareng, deh”,angan Veda.
            “Kebanyakan ngayal, lo. Orang kenal aja baru tadi pagi, udah mikir pacaran”,kata Rena.
            “Siapa tahu?”.
            Mereka mendapatkan angkot dan ketika sampai di depan kost, keduanya segera menemui Mbak Rini lalu meminta kunci rumah utama. Mbak Rini pun memberikannya pada mereka dan lekas berangkat kerja agar tidak terlambat.
            Sabtu memang hari di mana mereka harus puas dengan kesendirian mereka. Sebab, kost sepi karena penghuninya pada pulang kampung serta ada juga yang berkencan dengan pacar-pacarnya. Rena dan Veda yang memang tidak punya pacar dan jarang pulang kampung karena ingin mengirit biaya, memilih tinggal di kost berdua sambil menikmati suasana malam minggu di kost yang sepi mamring itu. Sudah seperti rutinitas yang mereka jalani. Kadang ada Bi Inem yang ikut kumpul bareng mereka, kalau Bi Inem udah tidur ya mereka menghabiskan malam minggu berdua. Biasanya nonton drama korea, kalo nggak ya main game di kamar. Itu-itu saja yang mereka lakukan selama satu tahun lebih ini.
            Tapi, Veda baru ingat kalau hari ini ia ada janji untuk bertemu dengan temannya yang akan membahas tugas mereka. Veda pun lekas mandi dan ganti baju serta berpamitan kepada Rena. Yang terakhir jadi sedih karena harus di rumah bersama Bi Inem. Menerima keadaan tersebut, ia mengajak Bi Inem menonton drama korea.
Veda berangkat pukul lima sore dan meninggalkan Rena bersama Bi Inem di rumah kost.
            Sepeninggal Veda, Rena menghabiskan waktunya di depan televisi untuk menonton drama Korea kesukaannya. Sambil menyiapkan tissue seadanya, ia sesekali mengusap air mata yang menetes seirama dengan musik yang diputar pada drama itu. Kisahnya yang romantis dan mengharukan selalu dinanti-nanti oleh para penggemar. Tak lupa pemainnya yang juga kinclong-kinclong itu. Rena paling suka, tuh cowok yang kayak pemain film Korea.
Ia memperhatikan layar televisi dengan cermat. Sungguh menyedihkan, seorang cowok meninggalkan ceweknya demi perempuan lain yang merupakan bosnya. Hati cewek tersebut tersayat-sayat sembilu. Entah mengapa cewek itu tidak menangis. Mungkin karena air matanya sudah kering karena saking seringnya ia menangis, atau mungkin karena sudah seringnya ia mengalami hal seperti itu. Rena pun membayangkan jika dirinya adalah cewek itu.
            Gimana ya kalo gue jadi cewek itu? Menghabiskan setiap harinya dengan merenung tanpa setetespun air mata yang tumpah membasahi wajah. Meratapi nasib karena punya cowok terus cowok itu suka sama bosnya. Tapi, yang bikin dia tambah nangis adalah karena cowok itu nggak ada, dia nggak punya cowok. Lalu dia membayangkan cowok itu adalah Bagas.
 Kalo Bagas kayak gitu gimana, ya? Apa gue musti kehilangan cowok yang se-perfect dia? Air mata Rena semakin membanjir membayangkannya. Padahal ia belum yakin kalau Bagas memang akan menjadi kekasihnya. Kenal aja belum ada beberapa jam, kok sudah memikirkan sejauh itu.
            Bi Inem memperhatikan Rena dengan bingung. Dirinya yang dari tadi melongo karena tidak mengerti bahasa Korea sedangkan terjemahannya begitu cepat menghilang sementara dia tidak bisa membaca dengan cepat, mulai bingung, dikiranya Rena menangis karena ditinggal cowoknya beneran.
            Ia pun berkata di antara alunan lagu yang berputar. Seperti penyejuk dalam irama yang mengalun lembut.
            “Non Rena, ndak usah nangis. Biarin kalo cowoknya Non mau ninggalin Non. Kan masih buanyak cowok lain di dunia ini. Ndak cuman pacar Non”,kata Bi Inem, menenangkan Rena dengan usapan lembut di lengannya.
            “Siapa sih, Bi, yang nangis gara-gara ditinggal pacar”,jawabnya sesenggukkan  “Tuh”,ia pun menunjuk layar televisi. Bi Inem mengikuti jari telunjuk Rena.
            Bi Inem pun mengerti lalu dalam hati ia mengomentari, “Lihat pilem kayak gitu aja nangis. Ndeso. Anak kampung aja ndak segitu noraknya”.
            Setelah beberapa menit ia melihat film tersebut dan sudah merasa bosan, ia pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Rena hanya melihatnya sekilas, lalu terpaku kembali ke layar televisi.

EPISODE 2


Ketika Rena hendak pergi ke perpustakaan, ia melihat seorang cowok yang sedang duduk di bangku dekat kantin. Cowok itu sedang membaca buku besar yang ada di pangkuannya. Rena berusaha mencermati ciri-ciri cowok itu. Tinggi, kulit putih, rambut coklat, mata sipit, bibir indah, hidung mancung! That’s right! Itu kan si pangeran Holliwood gue! Ngapain dia disini? Mata Rena berbinar-binar. Tuhan emang selalu memberikan takdir baik untuk hamba-Nya. Dan kita nggak pernah tahu kapan takdir itu akan datang. Dan yang paling membuat gue bersyukur sekarang ini adalah takdir gue ada di depan mata! Tinggal beberapa langkah lagi gue bakal mencapat takdir itu!
            Dengan wajah bersinar-sinar, Rena berjalan mendekati cowok tersebut. Ia memandanginya dari jarak kurang lebih satu meter, baru berani menyapanya.
            “Hai!”,sapa Rena.
            Cowok itu mendongakkan kepalanya ke atas. Melihat seorang cewek sedang menyapanya, ia pun tersenyum ke arah Rena.
            “Kamu kuliah disini juga?”,tanya Rena yang berusaha menyembunyikan kegembiraan di wajahnya.
            “Iya, emangnya kenapa?”,cowok itu balik bertanya. Ia berbicara dengan ramah sehingga Rena pun jadi tidak malu-malu lagi.
            “Nggak apa-apa, sih. Cuman kaget aja ngeliatnya. Nggak pernah ketemu juga!”,jawab Rena.
            “Oh, gitu. Nama lo siapa?”,tanyanya.
            “Rena, lo?”.
            "Bagas. Lo fakultas apa?”.
            Belum sempat Rena menjawab, seorang cowok datang dan memberitahunya bahwa ia sedang ditunggu Pandu, teman sekelasnya di perpustakaan.
            “Gue ke perpus dulu, ya! Mau ngerjain tugas soalnya”,kata Rena. Ia akan beranjak pergi ketika Bagas mengatakan sesuatu.
            “Kapan-kapan ketemu lagi, ya!”,ajak Bagas.
            “Iya”, kata Rena sambil tersenyum ke arah Bagas dan berlalu meninggalkannya.
            Sebuah pertemuan yang tidak terduga. Benar kata orang, kalau emang jodoh itu nggak kemana! Gue baru menyadari kenapa gue ditakdirkan untuk kuliah disini, tahu gitu gue nggak bakal, deh milih kampus lain. Veda, ini berkat lo. Lo yang nyaranin gue buat kuliah disini. Thanks banget, Tuhan. Hidup ini ternyata nggak serumit program komputer!
            Sampai di perpus, ia celingak-celinguk mencari Pandu. Tidak menemukan temannya di meja depan, ia pun masuk dan mencarinya sampai ke dalam. Ternyata Pandu sedang duduk di bagian tengah perpustakaan sambil menekuni sebuah kertas yang berada di depannya. Rena pun menghampirinya.
            “Hey! Ada apa sih manggil gue? Kayak ada yang penting aja”,serunya. Ia tidak ingat kalau sedang berada di perpustakaan. Ia pun mendapat teguran, “Sssstttt...”, dari para mahasiswa lainnya yang sedang membaca buku.
            Pandu buru-buru menyembunyikan kertas yang ada di depannya dan ditaruhnya di dalam tas. Ia juga mengingatkan Rena untuk memelankan suaranya.
            “Gue cuman mau nunjukkin tugas kelompok kita. Kan takutnya lo nggak suka sama konsep gue”,jawab Pandu menggeser lembaran kertas yang ada di meja ke arah Rena.
            “Ah, gue percaya kok sama lo. Pasti konsep lo bagus. Lo kan pinter”,katanya tanpa bisa mengendalikan suaranya yang keras. Ia pun sekali lagi mendapat teguran.
            “Sssttt..”.
            “Kalo ngomong di perpus jangan kenceng-kenceng. Ganggu yang lain, tahu!”,kata Pandu menasihati. Ia berkata dengan suara lirih.
            “Iya,iya, gue tahu. Mending kita pindah aja ke taman belakang gimana?”,Rena berkata seperti orang yang berbisik.
            Akhirnya Pandu menyetujui usul Rena dan memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas.
            “Ya udah, ayo kita kesana”.
            Mereka pun meninggalkan perpustakaan dan pergi ke taman belakang kampus. Di sana juga banyak mahasiswa lainnya yang sedang berdiskusi atau mengobrolkan sesuatu. Ada yang sedang berlatih debat seperti orang yang lagi berantem, tuh otot-ototnya keluar semua. Kayak bisa hidup sendiri. Ada pula yang sedang berpacaran. Foto-foto sama pacarnya, nggak peduli ada orang lain yang memperhatikan mereka dengan pandangan dingin, tidak suka. Yang terakhir ini paling tidak disukai Rena. Berpacaran kok di kampus. Kayak nggak ada tempat lain aja.
            “Lo beneran suka sama konsep gue?”,tanya Pandu. Sekarang ia bisa berbicara dengan suara normal. Ia pun mengeluarkan laptopnya dan menunjukkan konsep tugas mereka kepada Rena.
            Rena melihatnya sekilas. Ia buru-buru mengomentari dengan santai.
            “Beneran, gue suka. Oh, iya, ngomong-ngomong, apa sih yang lo bawa tadi?”,Rena memasang wajah penasaran. “Gue lihat, dong. Kayaknya gambarnya bagus”.
            “Apaan?”,Pandu mengerutkan kening, pura-pura tidak mengerti.
            “Itu, kertas yang lo sembunyiin di tas. Gue lihat dong”,bujuk Rena.
            “Itu kan bukan bagian dari tugas kita”,jawab Pandu tanpa menunjukkan tampang malunya. Ia segera memalingkan wajahnya ke layar laptop.
            “Ya nggak apa-apa, lah. Pelit banget sih, lo”,kata Rena.
“Oh, jangan-jangan itu buat cewek yang lo suka, ya? Hayoo ngaku!”,godanya.
“Ih, dasar sinting”,komentar Pandu.
            Rena terus memberondong Pandu dengan beberapa pertanyaan yang membuat Pandu jadi salah tingkah. Pandu pun berusaha menyembunyikan ekspresi antara malu dan gelisahnya. Malu karena misi rahasianya terbongkar dan gelisah karena Rena mungkin akan mengetahui misinya tersebut.
            Lalu setelah beberapa pertanyaan dan ia berhasil membuat Pandu jadi lemas dan kalah bertarung dengan jurus ‘pancingan’ ala Rena serta ledekannya, ia pun akhirnya membiarkan lawannya istirahat.
            “Huu, pelit”,ledeknya lagi.
            “Biarin!”,jawabnya tanpa memperhatikan Rena yang tersenyum-senyum sendiri.
            “Lagian lo sih memperlihatkan sesuatu yang membuat gue jadi penasaran. Gue bertaruh, gambar tu tadi pasti gambar cewek yang lo suka. Biasanya kan para cowok suka mengekspresikan perasaannya lewat lukisan, apalagi cowok rumahan kayak lo. Sesuai banget typenya!”,Rena tertawa. Pandu yang mendengar tawanya langsung menoleh ke arahnya.
            “Emangnya lo tahu perasaan cowok kayak gimana? Orang lo sendiri aja nggak pernah jatuh cinta”,Pandu ganti meledeknya.
            “Yee,sorry, ya. Emang lo! Gue juga bisa lagi jatuh cinta”,balas Rena.
            “Oh, ya? Emang kapan lo jatuh cinta?”,tanya Pandu masih mencoba meledeknya.
            “Sekarang”,jawab Rena spontan. Ia menjawabnya dengan tenang seolah itu bukan masalah yang besar.
            “Sekarang?”,Pandu jadi bingung.
            “Iya. Tahu, nggak, Ndu. Gue tadi ketemu sama cowok yang kemarin nolongin gue di rumah sakit. Dia ternyata kuliah di sini juga”,katanya. Ia mulai bersemangat untuk memulai cerita. bercerita. Sepertinya semua orang tidak luput oleh ceritanya, sebab Rena memang selalu menceritakan peristiwa bahagia yang menimpa dirinya kepada semua orang, terutama yang dekat dengannya seperti Pandu dan Veda.
            “Oh, ya. Emang dia nolongin lo apaan?”,tanya Pandu tanpa minat. Ia masih fokus pada layar komputernya.
            Rena pun menceritakan pertemuannya dengan Bagas di rumah sakit saat ia sedang menengok sepupunya yang sedang dirawat disana. Ia juga mendeskripsikan ketampanan wajah Bagas yang seperti aktor Holliwood itu. Selama Rena bercerita, wajah Pandu tidak berpaling dari layar laptopnya.
            “Trus lo udah kenalan sama dia?”,tanya Pandu masih tanpa minat.
            “Udah, dong. Namanya Bagas. Tapi gue belum tahu dia di fakultas apa”,jawab Rena bersemangat.
            “Oh, Bagas yang anak teknik itu?”,sekarang Pandu menoleh ke arahnya. Ia hendak menertawakan pernyataan Rena.
            Rena membayangkan nama Bagas yang dimaksud Pandu. Seorang cowok yang berambut gondrong, selalu memakai kacamata dan memiliki bibir yang dower itu. Ia sering nongkrong di kantin dan penampilannya nggak banget untuk ukuran cowok yang ditaksir Rena. Bagas yang ditemuinya tadi di dekat kantin lebih segala-galanya dari Bagas yang dimaksud Pandu. Membayangkannya sudah membuatnya mual, apalagi membandingkan dua orang itu secara langsung. Rena pun bergidik.
            “Iiih, ya bukan yang itu kali. Yang ini beda. Lebih ganteng, lebih cool, dan yang terpenting dia itu jaim. Nggak kayak Bagas yang lo sebutin tadi”,Rena ingat ketika Bagas yang dimaksud Pandu itu mengupil di kantin sehabis makan. Dan yang paling membuat Rena teringat sampai tidak mau makan selama dua hari di kantin tersebut adalah ketika upilnya si Bagas dioleskannya di meja dengan sembarangan. Mulai saat itu, Rena jadi ilfeel sama dia.
            “Mending juga nggak jaim lagi, Na”,jawab Pandu yang selalu memanggil Rena dengan sebutan ‘Na’. Ia tidak mau memanggil ‘Ren’ karena kalau ia memanggilnya begitu rasanya tidak pas, kayak manggil ayam tiren, alias ayam yang mati kemarin.
            “Nggak jaim sih, nggak jaim. Tapi, ya tahu tempat dan waktu lah. Masa ngupil pas gue lagi makan. Ya jelas ngebikin gue ilfeel lah”,balas Rena. Ia menghabus bayangan tentang kejadian itu beberapa kali dari ingatannya.
            Pandu tertawa mendengarkan pernyataan Rena.
            “Terserah lo, deh. Mau Bagas yang suka ngupil apa Bagas yang nggak suka ngupil tapi suka kentut sembarangan”,jawab Pandu sambil cekikikan.
            “Enggak dua-duanya!”,balas Rena.
            Pandu masih tertawa. Kali ini ia terpingkal-pingkal sampai laptop di pangkuannya sedikit terguncang.
”Oh, iya by the way, Veda kemana, kok dari tadi nggak muncul? Biasanya aja berduaan sama lo”,kata Pandu setelah berhenti tertawa.
            “Nggak tahu, deh makhluk yang satu itu kemana. Lagi berimajinasi dengan bacaannya kali”,timpal Rena.
            “Emang, ya anak itu. Kalo udah ketemu sama buku, lengket. Nggak bisa pisah”,Pandu menggerak-gerakkan tangannya seolah kedua telapak tangannya lengket oleh sesuatu.
            “Bener banget”,Rena membenarkan.
            “Ya udah, deh. Gue mau ngetik tugas kita dulu. Kalo lo punya referensi yang bisa nambahin buat tugas kita, telepon gue aja, ya”,kata Pandu.
“Sip, deh”.
Pandu pun berlalu meninggalkan Rena yang duduk sendiri di bangku taman itu.
            “Pusing banget, deh mikirin tugas. Untung aja ada si Pandu yang otaknya encer. Kalo nggak ada dia, hidup dan kuliah gue bisa dipertaruhkan”,guman Rena pada dirinya sendiri. Ia mengambil i-pod yang ada di tas lengannya dan memasang handset di telinganya.
            “Dua hal yang musti gue syukurin, bisa kuliah disini dan Pandu”,katanya sekali lagi dalam hati.
            Musik yang mengalun lembut membuatnya menikmati setiap iramanya dengan ritme yang pas. Lagunya gonta-ganti. Kadang slow, biasa, dan bahkan bisa rock sekalipun. Rena memang menyukai semua jenis musik, karena salah satu cara untuk menikmatinya adalah dengan mendengarkannya. Jadi, sah-sah aja dong semua jenis musiknya. Yang penting didengarkan dan nggak ngebuat kepala pening, gitu aja. Dan nggak terlalu cempreng atau ngerock nggak jelas gitu suaranya.
            “Hai!”,sapa seorang cowok.
            Rena tidak mendengarkannya karena telinganya tersumbat oleh handset. Ia masih asyik mengikuti irama lagi. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan berirama. Cowok yang bernama Bagas itu bingung, mau memanggilnya dengan lantang, nanti malah anak-anak yang lain memperhatikannya, dikiranya dia sedang teriak-teriak kayak orang stress. Tapi, kalo dia diam dan pergi, jadinya malah nggak dapet apa-apa. Nggak bisa kenalan sama cewek tadi dan juga bertindak seperti seorang pahlawan yang kalah sebelum perang. Ia pun akhirnya menepuk bahu Rena.
Rena terkejut. Ia baru akan memukulkan sebuah buku ke kepala cowok itu sebelum melihat bahwa ternyata cowok itu adalah Bagas. Rena pun melepas handsetnya dan memperlihatkan seulas senyum serta tampang yang sedikit malu.
 

Sunday, January 17, 2016

EPISODE 1

Veda sedang asyik memelototi layar komputernya sampai ia tidak mendengar ketika Rena menceritakan cowok yang baru ditemuinya di rumah sakit. Jari tangannya yang mondar-mandir di atas keyboard komputer tidak bisa berhenti saking asyiknya. Ia pun kadang tersenyum sendiri, ada kalanya juga ia mengerutkan kening, atau cemberut penuh arti. Sementara itu Rena mengoceh sendiri tanpa ia perhatikan.

            “Dia tuh nolongin gue bangun dan ngambilin barang-barang gue yang jatuh. Dia juga minta maaf lagi. Padahal yang nabrak dia kan gue. Cool banget tuh cowok. Sayangnya gue nggak sempet kenalan sama dia”,cerocos Rena.

            Veda hanya menyahut tanpa minat, “Kenapa nggak kenalan sama dia?”.

            “Masa gue yang harus ngajakin dia kenalan dulu? Kan gue cewek. Gengsi dong!”,jawabnya lalu ia bercerita lagi. Veda hanya menimpalinya dengan menjawab ‘Ya’ atau ‘Yap’.

            “Kok dia nggak koment di status gue lagi,ya”,gumam Veda lirih. Rena tidak mendengarnya, ia masih terus menceritakan cowok itu.

            “Rambutnya klimis, parfumnya wangi, baju dan sepatu yang dipakai cowok itu keren pula. Cocok deh sama badan dia..”,Rena berusaha mendeskripsikan cowok yang ditemuinya itu dengan menggerak-gerakkan tangannya.

            “Ah, sial. Dia offline, deh!”,katanya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan lemas. Rena yang melihat gerak-gerik sahabatnya itu jadi curiga, sepertinya Veda nggak dengerin gue cerita, nih!

            “Da? Lo dengerin gue cerita nggak sih?”,kali ini Rena mendekati sahabatnya. Ia memelototi Veda yang sedang terpaku pada layar komputernya.

            Yang dipelototi malah kembali asyik di depan komputernya. Tanpa memperhatikan Rena, ia menjawab dengan tenang.

            “Denger, kok denger”,jawabnya tidak menyadari kehadiran Rena di hadapannya.

            “Ngapain sih, lo?”,Rena berjalan ke belakang Veda. Ia pun melihat ke layar komputer milik temannya itu.

            “Lagi facebook-an”,katanya keceplosan. Ia masih belum menyadari bahwa Rena sudah ada tepat di belakangnya sambil menyedekapkan kedua lengannya memperhatikan ke layar komputer juga.

            “Oh, gitu”,kata Rena mengetuk-ketukkan kakinya di lantai. Menimbulkan suara tuk..tuk..tuk.

            Veda yang baru sadar kalau Rena ada di belakangnya cengar-cengir seperti ketahuan sedang nyolong buah di kebun tetangga. Tapi, ia tidak bisa kabur, Rena pun menghadiahinya dengan sebuah gelitikan di pinggang kirinya.

            “Nih, ya, rasain! Salah sendiri nggak dengerin gue cerita”.

            Jari tangan Rena tengah asyik memijat pinggang Veda. Yang terakhir ini berusaha menghindar, tapi sayang, Rena sudah menemukan objek pelampiasan kekecewaannya karena sudah cerita panjang lebar malah tidak didengarkan.

            Mereka berdua terlibat dalam sebuah adu gelitik yang dimulai Rena. Merasa di atas angin, Rena mengeluarkan jurus ‘gelitik’ paling ampuh untuk melumpuhkan lawannya. Veda pun tidak mau kalah. Ia membalas dengan menggelitik pinggang temannya juga. Keduanya saling gelitik sampai berlari-larian di dalam kamar. Proses gelitik-menggelitiki itu baru berhenti ketika keduanya saling menyerah. Keringat pun bercucuran di wajah dan leher mereka.

            “Gue gelitik gini aja keringetan”,ledek Rena.

            “Ah, lo juga!”,balas Veda, ngos-ngosan.

            “Gara-gara lo sih. Gue udah cerita sampai ke Amerika, lo nya malah facebook-an. Kayaknya lebih asyik facebook-an daripada dengerin cerita gue”,kata Rena memasang tampang seperti orang yang sedang ngambek. Keringat yang bercucuran di sela-sela wajahnya membuat pipinya semakin mengkilat.

            Sorry, my best friend. Soalnya gue lagi ngebales pesannya kenalan gue di Facebook”,kata Veda tanpa dosa. Ia bergaya seperti anak alay yang kena cacingan stadium dua.

            Rena yang mendengar pernyataan temannya itu berubah mimik mukanya. Apalagi ketika melihat Veda bergaya ala ‘alay’ yang sudah mahir. Ia pun tiba-tiba tertawa.

            “Lo punya kenalan?”,tanyanya masih tertawa. Tawa Rena sedikit cekikikan, Veda biasa menyebutnya kuntilanak stress yang sering bergelantungan di pohon jambu.

            “Emang kenapa sih? Kayaknya nggak rela banget gue punya kenalan?”,Veda heran melihat temannya yang sedang menikmati tawanya.

            “Nggak juga sih. Cuman gue bersyukur aja. Akhirnya lo mau move on dari Andi”,jawab Rena, masih mempertahankan cekikikannya.

            “Gue emang uda move on, kok dari dia. Lo nya aja yang nggak tahu”,Veda jadi sewot. Ia paling benci kalau membahas persoalan mantan, apalagi Andi, mantan terakhirnya yang selingkuh sama teman sekolah Veda.

            “Ya, kali aja belum bisa, gitu. Masih terbayang-bayang wajahnya di kala malam datang”,Rena tertawa lagi. Kali ini tawanya semakin menggelegar.

            “Udah deh, jangan mulai lagi. Jangan bahas soal Andi, okay?”,jawabnya cuek.

Veda kembali duduk menghadap komputernya. Seperti sedang berpetualangan di gua yang tingginya tidak setinggi pundak mereka, Rena berjalan dengan gaya kelinci mengikuti Veda dari belakang. Ia berusaha melihat layar komputer dari jarak setengah meter.

            “Gue mau lihat dong calon pacar lo”,katanya disertai nada penasaran. Ia belum mengubah cara berdirinya.

            Veda refleks menutupi layar komputer dengan majalah yang dipakainya sebagai alas mouse, sehingga Rena tidak bisa melihat ke layar. Rena pun berusaha menyingkirkan majalah itu dari tangan Veda, tapi karena badan Veda lebih besar darinya, ia kalah melawan sahabatnya tersebut.

            “Apaan sih. Nggak boleh! Nanti aja kalo emang udah jadi. Sekarang, no way!”,kata Rena, memegangi majalah dengan erat.

            “Yaelah, pelit banget, sih. Cuman lihat doang aja”.

            “Udah, deh balik sana ke kamar lo. Siap-siap sono mandi. Bentar lagi kita ada kuliah”,Veda mendorong tubuh Rena menjauh darinya.

            “Emang lo udah mandi?”,Rena mencibir.

            “Ya udah, lah. Lo nggak sadar apa ada aroma wangi yang terpancar dari tubuh suci gue bagai taman di surga?”,Veda bergaya merapikan baju dan rambutnya.

            Rena pun mengacak-acak rambut temannya itu. Veda merapikannya kembali dengan tangan kiri, tangan kanannya masih memegang majalah.

            “Ih, sialan! Tatanan rambut Pevita Pearce jadi acak-acakan, nih!”,protesnya.

            Rena tertawa lagi.

            “Peres banget, sih, lo! Ya udah gue mandi, ya? Janji pokoknya kalo lo udah jadian sama dia, kasih tahu gue”,kata Rena sambil mencium pipi sahabatnya dan berlari keluar kamar.

            Veda hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya seperti itu. Ia pun menutup pintu kamarnya dan menerima telepon dari seseorang.