Tuesday, January 26, 2016

EPISODE 3


“Aduh, maaf. Gue tadi refleks. Abis, gue kira temen gue laagi jahil gitu”,katanya sembari merapikan tatanan rambutnya.
“Nggak, apa-apa. Kalo emang tadi lo mau mukul gue pake buku itu, pasti nggak bakal kena. Orang gue punya penangkalnya, nih”,balasnya, mengangkat tas laptop jinjingnya ke arah Rena. Ia pun tertawa.
            “Lo ternyata punya jurus yang ampuh juga, ya. Oh, iya. Ada apa?”,tanyanya. Rena baru ingat kalau Bagas masih berdiri di dekatnya. “Duduk aja sini, jangan berdiri gitu. Ntar disangkanya lo wartawan yang bilang ‘permisi, saya mau wawancara dong’”,Rena memperagakan seorang wartawan yang hendak mewawancarai artis kece se-level dirinya.
            “Iya, permisi, ganggu ya, Mbak. Mau ngeliput, dong”,ganti Bagas yang jadi wartawan. Mereka pun tertawa. Bagas duduk di bangku yang tersisa di sebelah Rena.
            “Serius deh, serius. Ada apa, sih emangnya?”,kata Rena sambil tersenyum
            Bagas juga tersenyum ke arahnya.
            “Nggak ada apa-apa. Gue sebenarnya mau tanya, ‘sendiri aja?’, tapi keburu lo putus, sih!”,kata Bagas.
            Sorry, deh. Iya, nih. Tadi ada temen gue. Tapi, sekarang dia udah pergi. Mau ngetik tugas katanya”,jawab Rena mulai bisa menguasai keadaan.
            “Lo fakultas apa sih?”,Bagas bertanya.
            “Gue anak TI, lo?”,Rena ganti bertanya.
            “Gue ekonomi”,jawab Bagas singkat.
            “Oh, gitu. Udah semester berapa?”.
            “Baru semester dua. Lo?”.
            “Sama”.
            Mereka berdua terlibat dalam sebuah pembicaraan. Mereka saling bertanya satu sama lain. Kadang keduanya tampak tersenyum, kadang pula tertawa, berirama tergantung apa yang sedang mereka bicarakan. Rena mulai mengerti kalau Bagas itu nggak terlalu jaim seperti yang disangkanya. Dia malah pandai mengakrabkan diri. Nggak rugi, deh, Rena bisa ngobrol sama dia sekarang.
Pembicaraan mereka selalu berganti-ganti topik. Membicarakan Rena, kehidupannya, dan alasan mengapa ia meneruskan perjalanan hidupnya di kampus ini. Lalu Bagas yang menjawab kenapa ia ada di sini dan tujuan ia menjalaninya dengan baik.
“Ya, sebenarnya karena bokap gue kuliah di ekonomi”,jawabnya. “Gue nggak ada minat sama sekali, sih. Eh, tahunya waktu udah dapet satu semester, kecintaan gue mulai muncul, deh. Untung nggak ada wartawan yang tahu, ya. Kalau ada, bisa-bisa gue malu. Gue gengsi kalo semua orang tahu”.
“Gengsi? Kenapa gengsi?”,Rena bertanya-tanya.
“Oh, iya, gue tahu! Karena semua orang mengira lo munafik, kan? Yang awalnya nggak suka jadi suka. Hayoo, ya, kan?”,rasa penasaran Rena membuatnya jadi semakin menjadi-jadi.
“Bukan, lagi. Itu namanya kena karma, bukan munafik!”,jawab Bagas.
Rena tertawa terbahak-bahak.
“Jadi maksud lo, lo kena karma gara-gara bilang nggak suka sama fakultas yang lo ambil, gitu?”.
“Iya, lah. Emang apa lagi yang ngebuat gue tiba-tiba suka kalo nggak karena karma?”,balas Bagas.
“Emang ada yang begituan?”,tanya Rena.
“Kalo lo udah ngalamin sendiri, nggak bakal deh lo tanya gitu!”,jawabnya.
Mereka terus saja memperbincangkan hal yang paling unik yang pernah mereka alami. Sampai-sampai Rena tidak bisa berhenti tertawa karena kecerdasan Bagas membuat banyolan-banyolan seru. Ia jadi sakit perut mendengarkan ocehan Bagas yang ternyata pandai ngebanyol itu.
Nggak sangka, anak yang gue kira jaim justru nggak punya sisi jaim sekali pun. Kalo gue tahu dia bakan segila ini, besok-besok gue harus siap mental, nih. Jangan sampai gue jadi ketularan bayolan dia! Rena terus berkomentar dalam hati.
Tanpa terasa, sudah satu jam mereka berbincang. Rena pun tidak ingat kalau ada janji dengan Veda di kantin untuk pulang bareng. Veda yang dari tadi menunggunya pun akhirnya meneleponnya. Dengan segera ia mengangkat telepon dari sahabatnya itu. Lalu terdengar guntur memekakan telinga.
            “Oh, iya, lupa gue! Ya udah, gue on the way kesana nih”,jawab Rena. Ia pun berpamitan kepada Bagas dan pergi juga ke kantin. Bagas juga pergi, tapi berlawanan arah dengan kepergian Rena.
Di kantin Rena melihat sahabatnya menunggunya dengan memasang tampang cemberut. Matanya sipit dan seolah-olah siap memaki bahkan menghantamnya dengan pukulan yang sangat tajam. Rena pun tersenyum ke arahnya untuk menghilangkan ketegangan.
            “Lama banget, sih? Udah tahu malam Minggu, kost kita sepi nih. Harus buru-buru pulang sebelum Mbak Rini berangkat kerja”,omelnya pada Rena.
            “Iya, sorry, deh. Gue keasyikkan ngobrol sama Bagas”,ujar Rena.
            Veda pun berdiri dan mereka mengobrol sepanjang perjalanan pulang.
            “Bagas yang anak teknik?”,tanya Veda heran bercampur lucu. Ia tidak tahu sahabatnya dapat angin dari mana sampai bisa mengobrol dengan Bagas anak teknik yang dimaksudnya itu. Padahal Rena pernah bilang kalau dia alergi dekat-dekat dengan anak itu selama lebih dari satu menit.
            “Lo kayaknya sama aja, deh sama Pandu. Emangnya yang namanya Bagas di dunia ini cuman Bagas itu doang?”,protes Rena.
            Veda berusaha menahan tawanya. Pipinya sampai menggembung karena saking kuatnya ia menahan tawa.
            “Ya, nggak sih. Emang Bagas siapa? Gue belum pernah denger tuh temen lo yang namanya Bagas selain..”.
            “Bagas anak teknik”,potong Rena.
“Udah deh, ya. Pikiran lo cuman dia mulu! Bagas yang gue maksud ini Bagas yang lain. Dia itu cowok yang ketemu sama gue di rumah sakit kemarin. Yang gue ceritain sama lo”,Rena menyedekapkan lengan. Berusaha memancing minat sahabatnya oleh cerita yang selalu diulang-ulangnya beberapa kali. Veda sampai bosan mendengarnya.
            “Dia ngampus disini juga?”,tanya Veda sedikit heran.
            “Fakultas Ekonomi, tahu”,jawab Rena bangga.
            “Oh, ya? Hebat, dong!”,pujinya.
            “Nada lo kayak nggak ikhlas gitu?”,kata Rena memandang Veda dengan mata sipit. “Itu pujian apa ledekan?”.
            Pertahanan Veda pecah. Ia akhirnya menyuarakan tawanya. Rena paling benci mendengar itu. Sebuah ledekan yang diawali dengan pujian.
            “Enggak, gue tuh justru bersyukur lagi lo bisa dapet kenalan juga. Jadi kita bisa sama-sama punya pacar. Syukur-syukur kalo jadiannya bareng, deh”,angan Veda.
            “Kebanyakan ngayal, lo. Orang kenal aja baru tadi pagi, udah mikir pacaran”,kata Rena.
            “Siapa tahu?”.
            Mereka mendapatkan angkot dan ketika sampai di depan kost, keduanya segera menemui Mbak Rini lalu meminta kunci rumah utama. Mbak Rini pun memberikannya pada mereka dan lekas berangkat kerja agar tidak terlambat.
            Sabtu memang hari di mana mereka harus puas dengan kesendirian mereka. Sebab, kost sepi karena penghuninya pada pulang kampung serta ada juga yang berkencan dengan pacar-pacarnya. Rena dan Veda yang memang tidak punya pacar dan jarang pulang kampung karena ingin mengirit biaya, memilih tinggal di kost berdua sambil menikmati suasana malam minggu di kost yang sepi mamring itu. Sudah seperti rutinitas yang mereka jalani. Kadang ada Bi Inem yang ikut kumpul bareng mereka, kalau Bi Inem udah tidur ya mereka menghabiskan malam minggu berdua. Biasanya nonton drama korea, kalo nggak ya main game di kamar. Itu-itu saja yang mereka lakukan selama satu tahun lebih ini.
            Tapi, Veda baru ingat kalau hari ini ia ada janji untuk bertemu dengan temannya yang akan membahas tugas mereka. Veda pun lekas mandi dan ganti baju serta berpamitan kepada Rena. Yang terakhir jadi sedih karena harus di rumah bersama Bi Inem. Menerima keadaan tersebut, ia mengajak Bi Inem menonton drama korea.
Veda berangkat pukul lima sore dan meninggalkan Rena bersama Bi Inem di rumah kost.
            Sepeninggal Veda, Rena menghabiskan waktunya di depan televisi untuk menonton drama Korea kesukaannya. Sambil menyiapkan tissue seadanya, ia sesekali mengusap air mata yang menetes seirama dengan musik yang diputar pada drama itu. Kisahnya yang romantis dan mengharukan selalu dinanti-nanti oleh para penggemar. Tak lupa pemainnya yang juga kinclong-kinclong itu. Rena paling suka, tuh cowok yang kayak pemain film Korea.
Ia memperhatikan layar televisi dengan cermat. Sungguh menyedihkan, seorang cowok meninggalkan ceweknya demi perempuan lain yang merupakan bosnya. Hati cewek tersebut tersayat-sayat sembilu. Entah mengapa cewek itu tidak menangis. Mungkin karena air matanya sudah kering karena saking seringnya ia menangis, atau mungkin karena sudah seringnya ia mengalami hal seperti itu. Rena pun membayangkan jika dirinya adalah cewek itu.
            Gimana ya kalo gue jadi cewek itu? Menghabiskan setiap harinya dengan merenung tanpa setetespun air mata yang tumpah membasahi wajah. Meratapi nasib karena punya cowok terus cowok itu suka sama bosnya. Tapi, yang bikin dia tambah nangis adalah karena cowok itu nggak ada, dia nggak punya cowok. Lalu dia membayangkan cowok itu adalah Bagas.
 Kalo Bagas kayak gitu gimana, ya? Apa gue musti kehilangan cowok yang se-perfect dia? Air mata Rena semakin membanjir membayangkannya. Padahal ia belum yakin kalau Bagas memang akan menjadi kekasihnya. Kenal aja belum ada beberapa jam, kok sudah memikirkan sejauh itu.
            Bi Inem memperhatikan Rena dengan bingung. Dirinya yang dari tadi melongo karena tidak mengerti bahasa Korea sedangkan terjemahannya begitu cepat menghilang sementara dia tidak bisa membaca dengan cepat, mulai bingung, dikiranya Rena menangis karena ditinggal cowoknya beneran.
            Ia pun berkata di antara alunan lagu yang berputar. Seperti penyejuk dalam irama yang mengalun lembut.
            “Non Rena, ndak usah nangis. Biarin kalo cowoknya Non mau ninggalin Non. Kan masih buanyak cowok lain di dunia ini. Ndak cuman pacar Non”,kata Bi Inem, menenangkan Rena dengan usapan lembut di lengannya.
            “Siapa sih, Bi, yang nangis gara-gara ditinggal pacar”,jawabnya sesenggukkan  “Tuh”,ia pun menunjuk layar televisi. Bi Inem mengikuti jari telunjuk Rena.
            Bi Inem pun mengerti lalu dalam hati ia mengomentari, “Lihat pilem kayak gitu aja nangis. Ndeso. Anak kampung aja ndak segitu noraknya”.
            Setelah beberapa menit ia melihat film tersebut dan sudah merasa bosan, ia pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Rena hanya melihatnya sekilas, lalu terpaku kembali ke layar televisi.

EPISODE 2


Ketika Rena hendak pergi ke perpustakaan, ia melihat seorang cowok yang sedang duduk di bangku dekat kantin. Cowok itu sedang membaca buku besar yang ada di pangkuannya. Rena berusaha mencermati ciri-ciri cowok itu. Tinggi, kulit putih, rambut coklat, mata sipit, bibir indah, hidung mancung! That’s right! Itu kan si pangeran Holliwood gue! Ngapain dia disini? Mata Rena berbinar-binar. Tuhan emang selalu memberikan takdir baik untuk hamba-Nya. Dan kita nggak pernah tahu kapan takdir itu akan datang. Dan yang paling membuat gue bersyukur sekarang ini adalah takdir gue ada di depan mata! Tinggal beberapa langkah lagi gue bakal mencapat takdir itu!
            Dengan wajah bersinar-sinar, Rena berjalan mendekati cowok tersebut. Ia memandanginya dari jarak kurang lebih satu meter, baru berani menyapanya.
            “Hai!”,sapa Rena.
            Cowok itu mendongakkan kepalanya ke atas. Melihat seorang cewek sedang menyapanya, ia pun tersenyum ke arah Rena.
            “Kamu kuliah disini juga?”,tanya Rena yang berusaha menyembunyikan kegembiraan di wajahnya.
            “Iya, emangnya kenapa?”,cowok itu balik bertanya. Ia berbicara dengan ramah sehingga Rena pun jadi tidak malu-malu lagi.
            “Nggak apa-apa, sih. Cuman kaget aja ngeliatnya. Nggak pernah ketemu juga!”,jawab Rena.
            “Oh, gitu. Nama lo siapa?”,tanyanya.
            “Rena, lo?”.
            "Bagas. Lo fakultas apa?”.
            Belum sempat Rena menjawab, seorang cowok datang dan memberitahunya bahwa ia sedang ditunggu Pandu, teman sekelasnya di perpustakaan.
            “Gue ke perpus dulu, ya! Mau ngerjain tugas soalnya”,kata Rena. Ia akan beranjak pergi ketika Bagas mengatakan sesuatu.
            “Kapan-kapan ketemu lagi, ya!”,ajak Bagas.
            “Iya”, kata Rena sambil tersenyum ke arah Bagas dan berlalu meninggalkannya.
            Sebuah pertemuan yang tidak terduga. Benar kata orang, kalau emang jodoh itu nggak kemana! Gue baru menyadari kenapa gue ditakdirkan untuk kuliah disini, tahu gitu gue nggak bakal, deh milih kampus lain. Veda, ini berkat lo. Lo yang nyaranin gue buat kuliah disini. Thanks banget, Tuhan. Hidup ini ternyata nggak serumit program komputer!
            Sampai di perpus, ia celingak-celinguk mencari Pandu. Tidak menemukan temannya di meja depan, ia pun masuk dan mencarinya sampai ke dalam. Ternyata Pandu sedang duduk di bagian tengah perpustakaan sambil menekuni sebuah kertas yang berada di depannya. Rena pun menghampirinya.
            “Hey! Ada apa sih manggil gue? Kayak ada yang penting aja”,serunya. Ia tidak ingat kalau sedang berada di perpustakaan. Ia pun mendapat teguran, “Sssstttt...”, dari para mahasiswa lainnya yang sedang membaca buku.
            Pandu buru-buru menyembunyikan kertas yang ada di depannya dan ditaruhnya di dalam tas. Ia juga mengingatkan Rena untuk memelankan suaranya.
            “Gue cuman mau nunjukkin tugas kelompok kita. Kan takutnya lo nggak suka sama konsep gue”,jawab Pandu menggeser lembaran kertas yang ada di meja ke arah Rena.
            “Ah, gue percaya kok sama lo. Pasti konsep lo bagus. Lo kan pinter”,katanya tanpa bisa mengendalikan suaranya yang keras. Ia pun sekali lagi mendapat teguran.
            “Sssttt..”.
            “Kalo ngomong di perpus jangan kenceng-kenceng. Ganggu yang lain, tahu!”,kata Pandu menasihati. Ia berkata dengan suara lirih.
            “Iya,iya, gue tahu. Mending kita pindah aja ke taman belakang gimana?”,Rena berkata seperti orang yang berbisik.
            Akhirnya Pandu menyetujui usul Rena dan memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas.
            “Ya udah, ayo kita kesana”.
            Mereka pun meninggalkan perpustakaan dan pergi ke taman belakang kampus. Di sana juga banyak mahasiswa lainnya yang sedang berdiskusi atau mengobrolkan sesuatu. Ada yang sedang berlatih debat seperti orang yang lagi berantem, tuh otot-ototnya keluar semua. Kayak bisa hidup sendiri. Ada pula yang sedang berpacaran. Foto-foto sama pacarnya, nggak peduli ada orang lain yang memperhatikan mereka dengan pandangan dingin, tidak suka. Yang terakhir ini paling tidak disukai Rena. Berpacaran kok di kampus. Kayak nggak ada tempat lain aja.
            “Lo beneran suka sama konsep gue?”,tanya Pandu. Sekarang ia bisa berbicara dengan suara normal. Ia pun mengeluarkan laptopnya dan menunjukkan konsep tugas mereka kepada Rena.
            Rena melihatnya sekilas. Ia buru-buru mengomentari dengan santai.
            “Beneran, gue suka. Oh, iya, ngomong-ngomong, apa sih yang lo bawa tadi?”,Rena memasang wajah penasaran. “Gue lihat, dong. Kayaknya gambarnya bagus”.
            “Apaan?”,Pandu mengerutkan kening, pura-pura tidak mengerti.
            “Itu, kertas yang lo sembunyiin di tas. Gue lihat dong”,bujuk Rena.
            “Itu kan bukan bagian dari tugas kita”,jawab Pandu tanpa menunjukkan tampang malunya. Ia segera memalingkan wajahnya ke layar laptop.
            “Ya nggak apa-apa, lah. Pelit banget sih, lo”,kata Rena.
“Oh, jangan-jangan itu buat cewek yang lo suka, ya? Hayoo ngaku!”,godanya.
“Ih, dasar sinting”,komentar Pandu.
            Rena terus memberondong Pandu dengan beberapa pertanyaan yang membuat Pandu jadi salah tingkah. Pandu pun berusaha menyembunyikan ekspresi antara malu dan gelisahnya. Malu karena misi rahasianya terbongkar dan gelisah karena Rena mungkin akan mengetahui misinya tersebut.
            Lalu setelah beberapa pertanyaan dan ia berhasil membuat Pandu jadi lemas dan kalah bertarung dengan jurus ‘pancingan’ ala Rena serta ledekannya, ia pun akhirnya membiarkan lawannya istirahat.
            “Huu, pelit”,ledeknya lagi.
            “Biarin!”,jawabnya tanpa memperhatikan Rena yang tersenyum-senyum sendiri.
            “Lagian lo sih memperlihatkan sesuatu yang membuat gue jadi penasaran. Gue bertaruh, gambar tu tadi pasti gambar cewek yang lo suka. Biasanya kan para cowok suka mengekspresikan perasaannya lewat lukisan, apalagi cowok rumahan kayak lo. Sesuai banget typenya!”,Rena tertawa. Pandu yang mendengar tawanya langsung menoleh ke arahnya.
            “Emangnya lo tahu perasaan cowok kayak gimana? Orang lo sendiri aja nggak pernah jatuh cinta”,Pandu ganti meledeknya.
            “Yee,sorry, ya. Emang lo! Gue juga bisa lagi jatuh cinta”,balas Rena.
            “Oh, ya? Emang kapan lo jatuh cinta?”,tanya Pandu masih mencoba meledeknya.
            “Sekarang”,jawab Rena spontan. Ia menjawabnya dengan tenang seolah itu bukan masalah yang besar.
            “Sekarang?”,Pandu jadi bingung.
            “Iya. Tahu, nggak, Ndu. Gue tadi ketemu sama cowok yang kemarin nolongin gue di rumah sakit. Dia ternyata kuliah di sini juga”,katanya. Ia mulai bersemangat untuk memulai cerita. bercerita. Sepertinya semua orang tidak luput oleh ceritanya, sebab Rena memang selalu menceritakan peristiwa bahagia yang menimpa dirinya kepada semua orang, terutama yang dekat dengannya seperti Pandu dan Veda.
            “Oh, ya. Emang dia nolongin lo apaan?”,tanya Pandu tanpa minat. Ia masih fokus pada layar komputernya.
            Rena pun menceritakan pertemuannya dengan Bagas di rumah sakit saat ia sedang menengok sepupunya yang sedang dirawat disana. Ia juga mendeskripsikan ketampanan wajah Bagas yang seperti aktor Holliwood itu. Selama Rena bercerita, wajah Pandu tidak berpaling dari layar laptopnya.
            “Trus lo udah kenalan sama dia?”,tanya Pandu masih tanpa minat.
            “Udah, dong. Namanya Bagas. Tapi gue belum tahu dia di fakultas apa”,jawab Rena bersemangat.
            “Oh, Bagas yang anak teknik itu?”,sekarang Pandu menoleh ke arahnya. Ia hendak menertawakan pernyataan Rena.
            Rena membayangkan nama Bagas yang dimaksud Pandu. Seorang cowok yang berambut gondrong, selalu memakai kacamata dan memiliki bibir yang dower itu. Ia sering nongkrong di kantin dan penampilannya nggak banget untuk ukuran cowok yang ditaksir Rena. Bagas yang ditemuinya tadi di dekat kantin lebih segala-galanya dari Bagas yang dimaksud Pandu. Membayangkannya sudah membuatnya mual, apalagi membandingkan dua orang itu secara langsung. Rena pun bergidik.
            “Iiih, ya bukan yang itu kali. Yang ini beda. Lebih ganteng, lebih cool, dan yang terpenting dia itu jaim. Nggak kayak Bagas yang lo sebutin tadi”,Rena ingat ketika Bagas yang dimaksud Pandu itu mengupil di kantin sehabis makan. Dan yang paling membuat Rena teringat sampai tidak mau makan selama dua hari di kantin tersebut adalah ketika upilnya si Bagas dioleskannya di meja dengan sembarangan. Mulai saat itu, Rena jadi ilfeel sama dia.
            “Mending juga nggak jaim lagi, Na”,jawab Pandu yang selalu memanggil Rena dengan sebutan ‘Na’. Ia tidak mau memanggil ‘Ren’ karena kalau ia memanggilnya begitu rasanya tidak pas, kayak manggil ayam tiren, alias ayam yang mati kemarin.
            “Nggak jaim sih, nggak jaim. Tapi, ya tahu tempat dan waktu lah. Masa ngupil pas gue lagi makan. Ya jelas ngebikin gue ilfeel lah”,balas Rena. Ia menghabus bayangan tentang kejadian itu beberapa kali dari ingatannya.
            Pandu tertawa mendengarkan pernyataan Rena.
            “Terserah lo, deh. Mau Bagas yang suka ngupil apa Bagas yang nggak suka ngupil tapi suka kentut sembarangan”,jawab Pandu sambil cekikikan.
            “Enggak dua-duanya!”,balas Rena.
            Pandu masih tertawa. Kali ini ia terpingkal-pingkal sampai laptop di pangkuannya sedikit terguncang.
”Oh, iya by the way, Veda kemana, kok dari tadi nggak muncul? Biasanya aja berduaan sama lo”,kata Pandu setelah berhenti tertawa.
            “Nggak tahu, deh makhluk yang satu itu kemana. Lagi berimajinasi dengan bacaannya kali”,timpal Rena.
            “Emang, ya anak itu. Kalo udah ketemu sama buku, lengket. Nggak bisa pisah”,Pandu menggerak-gerakkan tangannya seolah kedua telapak tangannya lengket oleh sesuatu.
            “Bener banget”,Rena membenarkan.
            “Ya udah, deh. Gue mau ngetik tugas kita dulu. Kalo lo punya referensi yang bisa nambahin buat tugas kita, telepon gue aja, ya”,kata Pandu.
“Sip, deh”.
Pandu pun berlalu meninggalkan Rena yang duduk sendiri di bangku taman itu.
            “Pusing banget, deh mikirin tugas. Untung aja ada si Pandu yang otaknya encer. Kalo nggak ada dia, hidup dan kuliah gue bisa dipertaruhkan”,guman Rena pada dirinya sendiri. Ia mengambil i-pod yang ada di tas lengannya dan memasang handset di telinganya.
            “Dua hal yang musti gue syukurin, bisa kuliah disini dan Pandu”,katanya sekali lagi dalam hati.
            Musik yang mengalun lembut membuatnya menikmati setiap iramanya dengan ritme yang pas. Lagunya gonta-ganti. Kadang slow, biasa, dan bahkan bisa rock sekalipun. Rena memang menyukai semua jenis musik, karena salah satu cara untuk menikmatinya adalah dengan mendengarkannya. Jadi, sah-sah aja dong semua jenis musiknya. Yang penting didengarkan dan nggak ngebuat kepala pening, gitu aja. Dan nggak terlalu cempreng atau ngerock nggak jelas gitu suaranya.
            “Hai!”,sapa seorang cowok.
            Rena tidak mendengarkannya karena telinganya tersumbat oleh handset. Ia masih asyik mengikuti irama lagi. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan berirama. Cowok yang bernama Bagas itu bingung, mau memanggilnya dengan lantang, nanti malah anak-anak yang lain memperhatikannya, dikiranya dia sedang teriak-teriak kayak orang stress. Tapi, kalo dia diam dan pergi, jadinya malah nggak dapet apa-apa. Nggak bisa kenalan sama cewek tadi dan juga bertindak seperti seorang pahlawan yang kalah sebelum perang. Ia pun akhirnya menepuk bahu Rena.
Rena terkejut. Ia baru akan memukulkan sebuah buku ke kepala cowok itu sebelum melihat bahwa ternyata cowok itu adalah Bagas. Rena pun melepas handsetnya dan memperlihatkan seulas senyum serta tampang yang sedikit malu.