Ketika
Rena hendak pergi ke perpustakaan, ia melihat seorang cowok yang sedang duduk
di bangku dekat kantin. Cowok itu sedang membaca buku besar yang ada di
pangkuannya. Rena berusaha mencermati ciri-ciri cowok itu. Tinggi, kulit putih,
rambut coklat, mata sipit, bibir indah, hidung mancung! That’s right! Itu kan si pangeran Holliwood gue! Ngapain dia
disini? Mata Rena berbinar-binar. Tuhan emang selalu memberikan takdir baik
untuk hamba-Nya. Dan kita nggak pernah tahu kapan takdir itu akan datang. Dan
yang paling membuat gue bersyukur sekarang ini adalah takdir gue ada di depan
mata! Tinggal beberapa langkah lagi gue bakal mencapat takdir itu!
Dengan wajah bersinar-sinar, Rena
berjalan mendekati cowok tersebut. Ia memandanginya dari jarak kurang lebih
satu meter, baru berani menyapanya.
“Hai!”,sapa Rena.
Cowok itu mendongakkan kepalanya ke
atas. Melihat seorang cewek sedang menyapanya, ia pun tersenyum ke arah Rena.
“Kamu kuliah disini juga?”,tanya
Rena yang berusaha menyembunyikan kegembiraan di wajahnya.
“Iya, emangnya kenapa?”,cowok itu
balik bertanya. Ia berbicara dengan ramah sehingga Rena pun jadi tidak
malu-malu lagi.
“Nggak apa-apa, sih. Cuman kaget aja
ngeliatnya. Nggak pernah ketemu juga!”,jawab Rena.
“Oh, gitu. Nama lo siapa?”,tanyanya.
“Rena, lo?”.
"Bagas. Lo fakultas apa?”.
Belum sempat Rena menjawab, seorang
cowok datang dan memberitahunya bahwa ia sedang ditunggu Pandu, teman
sekelasnya di perpustakaan.
“Gue ke perpus dulu, ya! Mau
ngerjain tugas soalnya”,kata Rena. Ia akan beranjak pergi ketika Bagas
mengatakan sesuatu.
“Kapan-kapan ketemu lagi, ya!”,ajak
Bagas.
“Iya”, kata Rena sambil tersenyum ke
arah Bagas dan berlalu meninggalkannya.
Sebuah pertemuan yang tidak terduga.
Benar kata orang, kalau emang jodoh itu nggak kemana! Gue baru menyadari kenapa
gue ditakdirkan untuk kuliah disini, tahu gitu gue nggak bakal, deh milih
kampus lain. Veda, ini berkat lo. Lo yang nyaranin gue buat kuliah disini. Thanks banget, Tuhan. Hidup ini ternyata
nggak serumit program komputer!
Sampai di perpus, ia
celingak-celinguk mencari Pandu. Tidak menemukan temannya di meja depan, ia pun
masuk dan mencarinya sampai ke dalam. Ternyata Pandu sedang duduk di bagian
tengah perpustakaan sambil menekuni sebuah kertas yang berada di depannya. Rena
pun menghampirinya.
“Hey! Ada apa sih manggil gue? Kayak
ada yang penting aja”,serunya. Ia tidak ingat kalau sedang berada di
perpustakaan. Ia pun mendapat teguran, “Sssstttt...”, dari para mahasiswa
lainnya yang sedang membaca buku.
Pandu buru-buru menyembunyikan
kertas yang ada di depannya dan ditaruhnya di dalam tas. Ia juga mengingatkan
Rena untuk memelankan suaranya.
“Gue cuman mau nunjukkin tugas
kelompok kita. Kan takutnya lo nggak suka sama konsep gue”,jawab Pandu
menggeser lembaran kertas yang ada di meja ke arah Rena.
“Ah, gue percaya kok sama lo. Pasti
konsep lo bagus. Lo kan pinter”,katanya tanpa bisa mengendalikan suaranya yang
keras. Ia pun sekali lagi mendapat teguran.
“Sssttt..”.
“Kalo ngomong di perpus jangan
kenceng-kenceng. Ganggu yang lain, tahu!”,kata Pandu menasihati. Ia berkata
dengan suara lirih.
“Iya,iya, gue tahu. Mending kita
pindah aja ke taman belakang gimana?”,Rena berkata seperti orang yang berbisik.
Akhirnya Pandu menyetujui usul Rena
dan memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas.
“Ya udah, ayo kita kesana”.
Mereka pun meninggalkan perpustakaan
dan pergi ke taman belakang kampus. Di sana juga banyak mahasiswa lainnya yang
sedang berdiskusi atau mengobrolkan sesuatu. Ada yang sedang berlatih debat
seperti orang yang lagi berantem, tuh otot-ototnya keluar semua. Kayak bisa
hidup sendiri. Ada pula yang sedang berpacaran. Foto-foto sama pacarnya, nggak
peduli ada orang lain yang memperhatikan mereka dengan pandangan dingin, tidak
suka. Yang terakhir ini paling tidak disukai Rena. Berpacaran kok di kampus.
Kayak nggak ada tempat lain aja.
“Lo beneran suka sama konsep
gue?”,tanya Pandu. Sekarang ia bisa berbicara dengan suara normal. Ia pun
mengeluarkan laptopnya dan menunjukkan konsep tugas mereka kepada Rena.
Rena melihatnya sekilas. Ia
buru-buru mengomentari dengan santai.
“Beneran, gue suka. Oh, iya,
ngomong-ngomong, apa sih yang lo bawa tadi?”,Rena memasang wajah penasaran.
“Gue lihat, dong. Kayaknya gambarnya bagus”.
“Apaan?”,Pandu mengerutkan kening,
pura-pura tidak mengerti.
“Itu, kertas yang lo sembunyiin di
tas. Gue lihat dong”,bujuk Rena.
“Itu kan bukan bagian dari tugas
kita”,jawab Pandu tanpa menunjukkan tampang malunya. Ia segera memalingkan
wajahnya ke layar laptop.
“Ya nggak apa-apa, lah. Pelit banget
sih, lo”,kata Rena.
“Oh,
jangan-jangan itu buat cewek yang lo suka, ya? Hayoo ngaku!”,godanya.
“Ih,
dasar sinting”,komentar Pandu.
Rena terus memberondong Pandu dengan
beberapa pertanyaan yang membuat Pandu jadi salah tingkah. Pandu pun berusaha
menyembunyikan ekspresi antara malu dan gelisahnya. Malu karena misi rahasianya
terbongkar dan gelisah karena Rena mungkin akan mengetahui misinya tersebut.
Lalu setelah beberapa pertanyaan dan
ia berhasil membuat Pandu jadi lemas dan kalah bertarung dengan jurus ‘pancingan’
ala Rena serta ledekannya, ia pun akhirnya membiarkan lawannya istirahat.
“Huu, pelit”,ledeknya lagi.
“Biarin!”,jawabnya tanpa
memperhatikan Rena yang tersenyum-senyum sendiri.
“Lagian lo sih memperlihatkan
sesuatu yang membuat gue jadi penasaran. Gue bertaruh, gambar tu tadi pasti
gambar cewek yang lo suka. Biasanya kan para cowok suka mengekspresikan
perasaannya lewat lukisan, apalagi cowok rumahan kayak lo. Sesuai banget
typenya!”,Rena tertawa. Pandu yang mendengar tawanya langsung menoleh ke arahnya.
“Emangnya lo tahu perasaan cowok
kayak gimana? Orang lo sendiri aja nggak pernah jatuh cinta”,Pandu ganti
meledeknya.
“Yee,sorry, ya. Emang lo! Gue juga bisa lagi jatuh cinta”,balas Rena.
“Oh, ya? Emang kapan lo jatuh
cinta?”,tanya Pandu masih mencoba meledeknya.
“Sekarang”,jawab Rena spontan. Ia
menjawabnya dengan tenang seolah itu bukan masalah yang besar.
“Sekarang?”,Pandu jadi bingung.
“Iya. Tahu, nggak, Ndu. Gue tadi
ketemu sama cowok yang kemarin nolongin gue di rumah sakit. Dia ternyata kuliah
di sini juga”,katanya. Ia mulai bersemangat untuk memulai cerita. bercerita.
Sepertinya semua orang tidak luput oleh ceritanya, sebab Rena memang selalu
menceritakan peristiwa bahagia yang menimpa dirinya kepada semua orang,
terutama yang dekat dengannya seperti Pandu dan Veda.
“Oh, ya. Emang dia nolongin lo
apaan?”,tanya Pandu tanpa minat. Ia masih fokus pada layar komputernya.
Rena pun menceritakan pertemuannya
dengan Bagas di rumah sakit saat ia sedang menengok sepupunya yang sedang
dirawat disana. Ia juga mendeskripsikan ketampanan wajah Bagas yang seperti
aktor Holliwood itu. Selama Rena bercerita, wajah Pandu tidak berpaling dari
layar laptopnya.
“Trus lo udah kenalan sama
dia?”,tanya Pandu masih tanpa minat.
“Udah, dong. Namanya Bagas. Tapi gue
belum tahu dia di fakultas apa”,jawab Rena bersemangat.
“Oh, Bagas yang anak teknik
itu?”,sekarang Pandu menoleh ke arahnya. Ia hendak menertawakan pernyataan
Rena.
Rena membayangkan nama Bagas yang
dimaksud Pandu. Seorang cowok yang berambut gondrong, selalu memakai kacamata
dan memiliki bibir yang dower itu. Ia sering nongkrong di kantin dan
penampilannya nggak banget untuk ukuran cowok yang ditaksir Rena. Bagas yang
ditemuinya tadi di dekat kantin lebih segala-galanya dari Bagas yang dimaksud Pandu.
Membayangkannya sudah membuatnya mual, apalagi membandingkan dua orang itu
secara langsung. Rena pun bergidik.
“Iiih, ya bukan yang itu kali. Yang
ini beda. Lebih ganteng, lebih cool,
dan yang terpenting dia itu jaim. Nggak
kayak Bagas yang lo sebutin tadi”,Rena ingat ketika Bagas yang dimaksud Pandu
itu mengupil di kantin sehabis makan. Dan yang paling membuat Rena teringat
sampai tidak mau makan selama dua hari di kantin tersebut adalah ketika upilnya
si Bagas dioleskannya di meja dengan sembarangan. Mulai saat itu, Rena jadi
ilfeel sama dia.
“Mending juga nggak jaim lagi, Na”,jawab Pandu yang selalu
memanggil Rena dengan sebutan ‘Na’. Ia tidak mau memanggil ‘Ren’ karena kalau
ia memanggilnya begitu rasanya tidak pas, kayak manggil ayam tiren, alias ayam
yang mati kemarin.
“Nggak jaim sih, nggak jaim. Tapi,
ya tahu tempat dan waktu lah. Masa ngupil pas gue lagi makan. Ya jelas ngebikin
gue ilfeel lah”,balas Rena. Ia menghabus bayangan tentang kejadian itu beberapa
kali dari ingatannya.
Pandu tertawa mendengarkan pernyataan
Rena.
“Terserah lo, deh. Mau Bagas yang
suka ngupil apa Bagas yang nggak suka ngupil tapi suka kentut
sembarangan”,jawab Pandu sambil cekikikan.
“Enggak dua-duanya!”,balas Rena.
Pandu masih tertawa. Kali ini ia
terpingkal-pingkal sampai laptop di pangkuannya sedikit terguncang.
”Oh,
iya by the way, Veda kemana, kok dari
tadi nggak muncul? Biasanya aja berduaan sama lo”,kata Pandu setelah berhenti
tertawa.
“Nggak tahu, deh makhluk yang satu
itu kemana. Lagi berimajinasi dengan bacaannya kali”,timpal Rena.
“Emang, ya anak itu. Kalo udah
ketemu sama buku, lengket. Nggak bisa pisah”,Pandu menggerak-gerakkan tangannya
seolah kedua telapak tangannya lengket oleh sesuatu.
“Bener banget”,Rena membenarkan.
“Ya udah, deh. Gue mau ngetik tugas
kita dulu. Kalo lo punya referensi yang bisa nambahin buat tugas kita, telepon
gue aja, ya”,kata Pandu.
“Sip,
deh”.
Pandu
pun berlalu meninggalkan Rena yang duduk sendiri di bangku taman itu.
“Pusing banget, deh mikirin tugas.
Untung aja ada si Pandu yang otaknya encer. Kalo nggak ada dia, hidup dan
kuliah gue bisa dipertaruhkan”,guman Rena pada dirinya sendiri. Ia mengambil
i-pod yang ada di tas lengannya dan memasang handset di telinganya.
“Dua hal yang musti gue syukurin,
bisa kuliah disini dan Pandu”,katanya sekali lagi dalam hati.
Musik yang mengalun lembut
membuatnya menikmati setiap iramanya dengan ritme yang pas. Lagunya
gonta-ganti. Kadang slow, biasa, dan bahkan bisa rock sekalipun. Rena memang
menyukai semua jenis musik, karena salah satu cara untuk menikmatinya adalah
dengan mendengarkannya. Jadi, sah-sah aja dong semua jenis musiknya. Yang
penting didengarkan dan nggak ngebuat kepala pening, gitu aja. Dan nggak
terlalu cempreng atau ngerock nggak jelas gitu suaranya.
“Hai!”,sapa seorang cowok.
Rena tidak mendengarkannya karena
telinganya tersumbat oleh handset. Ia masih asyik mengikuti irama lagi.
Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan berirama. Cowok yang bernama Bagas itu bingung,
mau memanggilnya dengan lantang, nanti malah anak-anak yang lain
memperhatikannya, dikiranya dia sedang teriak-teriak kayak orang stress. Tapi,
kalo dia diam dan pergi, jadinya malah nggak dapet apa-apa. Nggak bisa kenalan
sama cewek tadi dan juga bertindak seperti seorang pahlawan yang kalah sebelum
perang. Ia pun akhirnya menepuk bahu Rena.
Rena
terkejut. Ia baru akan memukulkan sebuah buku ke kepala cowok itu sebelum
melihat bahwa ternyata cowok itu adalah Bagas. Rena pun melepas handsetnya dan
memperlihatkan seulas senyum serta tampang yang sedikit malu.

0 comments:
Post a Comment