Veda
sedang asyik memelototi layar komputernya sampai ia tidak mendengar ketika Rena
menceritakan cowok yang baru ditemuinya di rumah sakit. Jari tangannya yang
mondar-mandir di atas keyboard komputer tidak bisa berhenti saking asyiknya. Ia
pun kadang tersenyum sendiri, ada kalanya juga ia mengerutkan kening, atau
cemberut penuh arti. Sementara itu Rena mengoceh sendiri tanpa ia perhatikan.
“Dia tuh nolongin gue bangun dan
ngambilin barang-barang gue yang jatuh. Dia juga minta maaf lagi. Padahal yang
nabrak dia kan gue. Cool banget tuh
cowok. Sayangnya gue nggak sempet kenalan sama dia”,cerocos Rena.
Veda hanya menyahut tanpa minat,
“Kenapa nggak kenalan sama dia?”.
“Masa gue yang harus ngajakin dia
kenalan dulu? Kan gue cewek. Gengsi dong!”,jawabnya lalu ia bercerita lagi.
Veda hanya menimpalinya dengan menjawab ‘Ya’ atau ‘Yap’.
“Kok dia nggak koment di status gue
lagi,ya”,gumam Veda lirih. Rena tidak mendengarnya, ia masih terus menceritakan
cowok itu.
“Rambutnya klimis, parfumnya wangi,
baju dan sepatu yang dipakai cowok itu keren pula. Cocok deh sama badan
dia..”,Rena berusaha mendeskripsikan cowok yang ditemuinya itu dengan
menggerak-gerakkan tangannya.
“Ah, sial. Dia offline, deh!”,katanya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran
kursi dengan lemas. Rena yang melihat gerak-gerik sahabatnya itu jadi curiga,
sepertinya Veda nggak dengerin gue cerita, nih!
“Da? Lo dengerin gue cerita nggak
sih?”,kali ini Rena mendekati sahabatnya. Ia memelototi Veda yang sedang
terpaku pada layar komputernya.
Yang dipelototi malah kembali asyik
di depan komputernya. Tanpa memperhatikan Rena, ia menjawab dengan tenang.
“Denger, kok denger”,jawabnya tidak
menyadari kehadiran Rena di hadapannya.
“Ngapain sih, lo?”,Rena berjalan ke
belakang Veda. Ia pun melihat ke layar komputer milik temannya itu.
“Lagi facebook-an”,katanya
keceplosan. Ia masih belum menyadari bahwa Rena sudah ada tepat di belakangnya
sambil menyedekapkan kedua lengannya memperhatikan ke layar komputer juga.
“Oh, gitu”,kata Rena mengetuk-ketukkan
kakinya di lantai. Menimbulkan suara tuk..tuk..tuk.
Veda yang baru sadar kalau Rena ada
di belakangnya cengar-cengir seperti ketahuan sedang nyolong buah di kebun
tetangga. Tapi, ia tidak bisa kabur, Rena pun menghadiahinya dengan sebuah
gelitikan di pinggang kirinya.
“Nih, ya, rasain! Salah sendiri
nggak dengerin gue cerita”.
Jari tangan Rena tengah asyik
memijat pinggang Veda. Yang terakhir ini berusaha menghindar, tapi sayang, Rena
sudah menemukan objek pelampiasan kekecewaannya karena sudah cerita panjang
lebar malah tidak didengarkan.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah
adu gelitik yang dimulai Rena. Merasa di atas angin, Rena mengeluarkan jurus
‘gelitik’ paling ampuh untuk melumpuhkan lawannya. Veda pun tidak mau kalah. Ia
membalas dengan menggelitik pinggang temannya juga. Keduanya saling gelitik
sampai berlari-larian di dalam kamar. Proses gelitik-menggelitiki itu baru
berhenti ketika keduanya saling menyerah. Keringat pun bercucuran di wajah dan
leher mereka.
“Gue gelitik gini aja
keringetan”,ledek Rena.
“Ah, lo juga!”,balas Veda,
ngos-ngosan.
“Gara-gara lo sih. Gue udah cerita
sampai ke Amerika, lo nya malah facebook-an. Kayaknya lebih asyik facebook-an
daripada dengerin cerita gue”,kata Rena memasang tampang seperti orang yang
sedang ngambek. Keringat yang bercucuran di sela-sela wajahnya membuat pipinya
semakin mengkilat.
“Sorry,
my best friend. Soalnya gue lagi ngebales pesannya kenalan gue di
Facebook”,kata Veda tanpa dosa. Ia bergaya seperti anak alay yang kena cacingan
stadium dua.
Rena yang mendengar pernyataan
temannya itu berubah mimik mukanya. Apalagi ketika melihat Veda bergaya ala
‘alay’ yang sudah mahir. Ia pun tiba-tiba tertawa.
“Lo punya kenalan?”,tanyanya masih
tertawa. Tawa Rena sedikit cekikikan, Veda biasa menyebutnya kuntilanak stress
yang sering bergelantungan di pohon jambu.
“Emang kenapa sih? Kayaknya nggak
rela banget gue punya kenalan?”,Veda heran melihat temannya yang sedang
menikmati tawanya.
“Nggak juga sih. Cuman gue bersyukur
aja. Akhirnya lo mau move on dari
Andi”,jawab Rena, masih mempertahankan cekikikannya.
“Gue emang uda move on, kok dari dia. Lo nya aja yang nggak tahu”,Veda jadi sewot.
Ia paling benci kalau membahas persoalan mantan, apalagi Andi, mantan
terakhirnya yang selingkuh sama teman sekolah Veda.
“Ya, kali aja belum bisa, gitu.
Masih terbayang-bayang wajahnya di kala malam datang”,Rena tertawa lagi. Kali
ini tawanya semakin menggelegar.
“Udah deh, jangan mulai lagi. Jangan
bahas soal Andi, okay?”,jawabnya
cuek.
Veda
kembali duduk menghadap komputernya. Seperti sedang berpetualangan di gua yang
tingginya tidak setinggi pundak mereka, Rena berjalan dengan gaya kelinci
mengikuti Veda dari belakang. Ia berusaha melihat layar komputer dari jarak
setengah meter.
“Gue mau lihat dong calon pacar
lo”,katanya disertai nada penasaran. Ia belum mengubah cara berdirinya.
Veda refleks menutupi layar komputer
dengan majalah yang dipakainya sebagai alas mouse,
sehingga Rena tidak bisa melihat ke layar. Rena pun berusaha menyingkirkan
majalah itu dari tangan Veda, tapi karena badan Veda lebih besar darinya, ia
kalah melawan sahabatnya tersebut.
“Apaan sih. Nggak boleh! Nanti aja
kalo emang udah jadi. Sekarang, no way!”,kata
Rena, memegangi majalah dengan erat.
“Yaelah, pelit banget, sih. Cuman
lihat doang aja”.
“Udah, deh balik sana ke kamar lo.
Siap-siap sono mandi. Bentar lagi kita ada kuliah”,Veda mendorong tubuh Rena
menjauh darinya.
“Emang lo udah mandi?”,Rena
mencibir.
“Ya udah, lah. Lo nggak sadar apa
ada aroma wangi yang terpancar dari tubuh suci gue bagai taman di surga?”,Veda
bergaya merapikan baju dan rambutnya.
Rena pun mengacak-acak rambut
temannya itu. Veda merapikannya kembali dengan tangan kiri, tangan kanannya
masih memegang majalah.
“Ih, sialan! Tatanan rambut Pevita
Pearce jadi acak-acakan, nih!”,protesnya.
Rena tertawa lagi.
“Peres banget, sih, lo! Ya udah gue
mandi, ya? Janji pokoknya kalo lo udah jadian sama dia, kasih tahu gue”,kata
Rena sambil mencium pipi sahabatnya dan berlari keluar kamar.
Veda hanya geleng-geleng kepala
melihat sahabatnya seperti itu. Ia pun menutup pintu kamarnya dan menerima
telepon dari seseorang.
