Tuesday, January 26, 2016

EPISODE 3


“Aduh, maaf. Gue tadi refleks. Abis, gue kira temen gue laagi jahil gitu”,katanya sembari merapikan tatanan rambutnya.
“Nggak, apa-apa. Kalo emang tadi lo mau mukul gue pake buku itu, pasti nggak bakal kena. Orang gue punya penangkalnya, nih”,balasnya, mengangkat tas laptop jinjingnya ke arah Rena. Ia pun tertawa.
            “Lo ternyata punya jurus yang ampuh juga, ya. Oh, iya. Ada apa?”,tanyanya. Rena baru ingat kalau Bagas masih berdiri di dekatnya. “Duduk aja sini, jangan berdiri gitu. Ntar disangkanya lo wartawan yang bilang ‘permisi, saya mau wawancara dong’”,Rena memperagakan seorang wartawan yang hendak mewawancarai artis kece se-level dirinya.
            “Iya, permisi, ganggu ya, Mbak. Mau ngeliput, dong”,ganti Bagas yang jadi wartawan. Mereka pun tertawa. Bagas duduk di bangku yang tersisa di sebelah Rena.
            “Serius deh, serius. Ada apa, sih emangnya?”,kata Rena sambil tersenyum
            Bagas juga tersenyum ke arahnya.
            “Nggak ada apa-apa. Gue sebenarnya mau tanya, ‘sendiri aja?’, tapi keburu lo putus, sih!”,kata Bagas.
            Sorry, deh. Iya, nih. Tadi ada temen gue. Tapi, sekarang dia udah pergi. Mau ngetik tugas katanya”,jawab Rena mulai bisa menguasai keadaan.
            “Lo fakultas apa sih?”,Bagas bertanya.
            “Gue anak TI, lo?”,Rena ganti bertanya.
            “Gue ekonomi”,jawab Bagas singkat.
            “Oh, gitu. Udah semester berapa?”.
            “Baru semester dua. Lo?”.
            “Sama”.
            Mereka berdua terlibat dalam sebuah pembicaraan. Mereka saling bertanya satu sama lain. Kadang keduanya tampak tersenyum, kadang pula tertawa, berirama tergantung apa yang sedang mereka bicarakan. Rena mulai mengerti kalau Bagas itu nggak terlalu jaim seperti yang disangkanya. Dia malah pandai mengakrabkan diri. Nggak rugi, deh, Rena bisa ngobrol sama dia sekarang.
Pembicaraan mereka selalu berganti-ganti topik. Membicarakan Rena, kehidupannya, dan alasan mengapa ia meneruskan perjalanan hidupnya di kampus ini. Lalu Bagas yang menjawab kenapa ia ada di sini dan tujuan ia menjalaninya dengan baik.
“Ya, sebenarnya karena bokap gue kuliah di ekonomi”,jawabnya. “Gue nggak ada minat sama sekali, sih. Eh, tahunya waktu udah dapet satu semester, kecintaan gue mulai muncul, deh. Untung nggak ada wartawan yang tahu, ya. Kalau ada, bisa-bisa gue malu. Gue gengsi kalo semua orang tahu”.
“Gengsi? Kenapa gengsi?”,Rena bertanya-tanya.
“Oh, iya, gue tahu! Karena semua orang mengira lo munafik, kan? Yang awalnya nggak suka jadi suka. Hayoo, ya, kan?”,rasa penasaran Rena membuatnya jadi semakin menjadi-jadi.
“Bukan, lagi. Itu namanya kena karma, bukan munafik!”,jawab Bagas.
Rena tertawa terbahak-bahak.
“Jadi maksud lo, lo kena karma gara-gara bilang nggak suka sama fakultas yang lo ambil, gitu?”.
“Iya, lah. Emang apa lagi yang ngebuat gue tiba-tiba suka kalo nggak karena karma?”,balas Bagas.
“Emang ada yang begituan?”,tanya Rena.
“Kalo lo udah ngalamin sendiri, nggak bakal deh lo tanya gitu!”,jawabnya.
Mereka terus saja memperbincangkan hal yang paling unik yang pernah mereka alami. Sampai-sampai Rena tidak bisa berhenti tertawa karena kecerdasan Bagas membuat banyolan-banyolan seru. Ia jadi sakit perut mendengarkan ocehan Bagas yang ternyata pandai ngebanyol itu.
Nggak sangka, anak yang gue kira jaim justru nggak punya sisi jaim sekali pun. Kalo gue tahu dia bakan segila ini, besok-besok gue harus siap mental, nih. Jangan sampai gue jadi ketularan bayolan dia! Rena terus berkomentar dalam hati.
Tanpa terasa, sudah satu jam mereka berbincang. Rena pun tidak ingat kalau ada janji dengan Veda di kantin untuk pulang bareng. Veda yang dari tadi menunggunya pun akhirnya meneleponnya. Dengan segera ia mengangkat telepon dari sahabatnya itu. Lalu terdengar guntur memekakan telinga.
            “Oh, iya, lupa gue! Ya udah, gue on the way kesana nih”,jawab Rena. Ia pun berpamitan kepada Bagas dan pergi juga ke kantin. Bagas juga pergi, tapi berlawanan arah dengan kepergian Rena.
Di kantin Rena melihat sahabatnya menunggunya dengan memasang tampang cemberut. Matanya sipit dan seolah-olah siap memaki bahkan menghantamnya dengan pukulan yang sangat tajam. Rena pun tersenyum ke arahnya untuk menghilangkan ketegangan.
            “Lama banget, sih? Udah tahu malam Minggu, kost kita sepi nih. Harus buru-buru pulang sebelum Mbak Rini berangkat kerja”,omelnya pada Rena.
            “Iya, sorry, deh. Gue keasyikkan ngobrol sama Bagas”,ujar Rena.
            Veda pun berdiri dan mereka mengobrol sepanjang perjalanan pulang.
            “Bagas yang anak teknik?”,tanya Veda heran bercampur lucu. Ia tidak tahu sahabatnya dapat angin dari mana sampai bisa mengobrol dengan Bagas anak teknik yang dimaksudnya itu. Padahal Rena pernah bilang kalau dia alergi dekat-dekat dengan anak itu selama lebih dari satu menit.
            “Lo kayaknya sama aja, deh sama Pandu. Emangnya yang namanya Bagas di dunia ini cuman Bagas itu doang?”,protes Rena.
            Veda berusaha menahan tawanya. Pipinya sampai menggembung karena saking kuatnya ia menahan tawa.
            “Ya, nggak sih. Emang Bagas siapa? Gue belum pernah denger tuh temen lo yang namanya Bagas selain..”.
            “Bagas anak teknik”,potong Rena.
“Udah deh, ya. Pikiran lo cuman dia mulu! Bagas yang gue maksud ini Bagas yang lain. Dia itu cowok yang ketemu sama gue di rumah sakit kemarin. Yang gue ceritain sama lo”,Rena menyedekapkan lengan. Berusaha memancing minat sahabatnya oleh cerita yang selalu diulang-ulangnya beberapa kali. Veda sampai bosan mendengarnya.
            “Dia ngampus disini juga?”,tanya Veda sedikit heran.
            “Fakultas Ekonomi, tahu”,jawab Rena bangga.
            “Oh, ya? Hebat, dong!”,pujinya.
            “Nada lo kayak nggak ikhlas gitu?”,kata Rena memandang Veda dengan mata sipit. “Itu pujian apa ledekan?”.
            Pertahanan Veda pecah. Ia akhirnya menyuarakan tawanya. Rena paling benci mendengar itu. Sebuah ledekan yang diawali dengan pujian.
            “Enggak, gue tuh justru bersyukur lagi lo bisa dapet kenalan juga. Jadi kita bisa sama-sama punya pacar. Syukur-syukur kalo jadiannya bareng, deh”,angan Veda.
            “Kebanyakan ngayal, lo. Orang kenal aja baru tadi pagi, udah mikir pacaran”,kata Rena.
            “Siapa tahu?”.
            Mereka mendapatkan angkot dan ketika sampai di depan kost, keduanya segera menemui Mbak Rini lalu meminta kunci rumah utama. Mbak Rini pun memberikannya pada mereka dan lekas berangkat kerja agar tidak terlambat.
            Sabtu memang hari di mana mereka harus puas dengan kesendirian mereka. Sebab, kost sepi karena penghuninya pada pulang kampung serta ada juga yang berkencan dengan pacar-pacarnya. Rena dan Veda yang memang tidak punya pacar dan jarang pulang kampung karena ingin mengirit biaya, memilih tinggal di kost berdua sambil menikmati suasana malam minggu di kost yang sepi mamring itu. Sudah seperti rutinitas yang mereka jalani. Kadang ada Bi Inem yang ikut kumpul bareng mereka, kalau Bi Inem udah tidur ya mereka menghabiskan malam minggu berdua. Biasanya nonton drama korea, kalo nggak ya main game di kamar. Itu-itu saja yang mereka lakukan selama satu tahun lebih ini.
            Tapi, Veda baru ingat kalau hari ini ia ada janji untuk bertemu dengan temannya yang akan membahas tugas mereka. Veda pun lekas mandi dan ganti baju serta berpamitan kepada Rena. Yang terakhir jadi sedih karena harus di rumah bersama Bi Inem. Menerima keadaan tersebut, ia mengajak Bi Inem menonton drama korea.
Veda berangkat pukul lima sore dan meninggalkan Rena bersama Bi Inem di rumah kost.
            Sepeninggal Veda, Rena menghabiskan waktunya di depan televisi untuk menonton drama Korea kesukaannya. Sambil menyiapkan tissue seadanya, ia sesekali mengusap air mata yang menetes seirama dengan musik yang diputar pada drama itu. Kisahnya yang romantis dan mengharukan selalu dinanti-nanti oleh para penggemar. Tak lupa pemainnya yang juga kinclong-kinclong itu. Rena paling suka, tuh cowok yang kayak pemain film Korea.
Ia memperhatikan layar televisi dengan cermat. Sungguh menyedihkan, seorang cowok meninggalkan ceweknya demi perempuan lain yang merupakan bosnya. Hati cewek tersebut tersayat-sayat sembilu. Entah mengapa cewek itu tidak menangis. Mungkin karena air matanya sudah kering karena saking seringnya ia menangis, atau mungkin karena sudah seringnya ia mengalami hal seperti itu. Rena pun membayangkan jika dirinya adalah cewek itu.
            Gimana ya kalo gue jadi cewek itu? Menghabiskan setiap harinya dengan merenung tanpa setetespun air mata yang tumpah membasahi wajah. Meratapi nasib karena punya cowok terus cowok itu suka sama bosnya. Tapi, yang bikin dia tambah nangis adalah karena cowok itu nggak ada, dia nggak punya cowok. Lalu dia membayangkan cowok itu adalah Bagas.
 Kalo Bagas kayak gitu gimana, ya? Apa gue musti kehilangan cowok yang se-perfect dia? Air mata Rena semakin membanjir membayangkannya. Padahal ia belum yakin kalau Bagas memang akan menjadi kekasihnya. Kenal aja belum ada beberapa jam, kok sudah memikirkan sejauh itu.
            Bi Inem memperhatikan Rena dengan bingung. Dirinya yang dari tadi melongo karena tidak mengerti bahasa Korea sedangkan terjemahannya begitu cepat menghilang sementara dia tidak bisa membaca dengan cepat, mulai bingung, dikiranya Rena menangis karena ditinggal cowoknya beneran.
            Ia pun berkata di antara alunan lagu yang berputar. Seperti penyejuk dalam irama yang mengalun lembut.
            “Non Rena, ndak usah nangis. Biarin kalo cowoknya Non mau ninggalin Non. Kan masih buanyak cowok lain di dunia ini. Ndak cuman pacar Non”,kata Bi Inem, menenangkan Rena dengan usapan lembut di lengannya.
            “Siapa sih, Bi, yang nangis gara-gara ditinggal pacar”,jawabnya sesenggukkan  “Tuh”,ia pun menunjuk layar televisi. Bi Inem mengikuti jari telunjuk Rena.
            Bi Inem pun mengerti lalu dalam hati ia mengomentari, “Lihat pilem kayak gitu aja nangis. Ndeso. Anak kampung aja ndak segitu noraknya”.
            Setelah beberapa menit ia melihat film tersebut dan sudah merasa bosan, ia pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Rena hanya melihatnya sekilas, lalu terpaku kembali ke layar televisi.

0 comments:

Post a Comment