“Aduh,
maaf. Gue tadi refleks. Abis, gue kira temen gue laagi jahil gitu”,katanya
sembari merapikan tatanan rambutnya.
“Nggak,
apa-apa. Kalo emang tadi lo mau mukul gue pake buku itu, pasti nggak bakal
kena. Orang gue punya penangkalnya, nih”,balasnya, mengangkat tas laptop
jinjingnya ke arah Rena. Ia pun tertawa.
“Lo ternyata punya jurus yang ampuh
juga, ya. Oh, iya. Ada apa?”,tanyanya. Rena baru ingat kalau Bagas masih
berdiri di dekatnya. “Duduk aja sini, jangan berdiri gitu. Ntar disangkanya lo
wartawan yang bilang ‘permisi, saya mau wawancara dong’”,Rena memperagakan
seorang wartawan yang hendak mewawancarai artis kece se-level dirinya.
“Iya, permisi, ganggu ya, Mbak. Mau
ngeliput, dong”,ganti Bagas yang jadi wartawan. Mereka pun tertawa. Bagas duduk
di bangku yang tersisa di sebelah Rena.
“Serius deh, serius. Ada apa, sih
emangnya?”,kata Rena sambil tersenyum
Bagas juga tersenyum ke arahnya.
“Nggak ada apa-apa. Gue sebenarnya
mau tanya, ‘sendiri aja?’, tapi keburu lo putus, sih!”,kata Bagas.
“Sorry,
deh. Iya, nih. Tadi ada temen gue. Tapi, sekarang dia udah pergi. Mau
ngetik tugas katanya”,jawab Rena mulai bisa menguasai keadaan.
“Lo fakultas apa sih?”,Bagas
bertanya.
“Gue anak TI, lo?”,Rena ganti
bertanya.
“Gue ekonomi”,jawab Bagas singkat.
“Oh, gitu. Udah semester berapa?”.
“Baru semester dua. Lo?”.
“Sama”.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah
pembicaraan. Mereka saling bertanya satu sama lain. Kadang keduanya tampak
tersenyum, kadang pula tertawa, berirama tergantung apa yang sedang mereka
bicarakan. Rena mulai mengerti kalau Bagas itu nggak terlalu jaim seperti yang
disangkanya. Dia malah pandai mengakrabkan diri. Nggak rugi, deh, Rena bisa
ngobrol sama dia sekarang.
Pembicaraan
mereka selalu berganti-ganti topik. Membicarakan Rena, kehidupannya, dan alasan
mengapa ia meneruskan perjalanan hidupnya di kampus ini. Lalu Bagas yang
menjawab kenapa ia ada di sini dan tujuan ia menjalaninya dengan baik.
“Ya,
sebenarnya karena bokap gue kuliah di ekonomi”,jawabnya. “Gue nggak ada minat
sama sekali, sih. Eh, tahunya waktu udah dapet satu semester, kecintaan gue
mulai muncul, deh. Untung nggak ada wartawan yang tahu, ya. Kalau ada,
bisa-bisa gue malu. Gue gengsi kalo semua orang tahu”.
“Gengsi?
Kenapa gengsi?”,Rena bertanya-tanya.
“Oh,
iya, gue tahu! Karena semua orang mengira lo munafik, kan? Yang awalnya nggak
suka jadi suka. Hayoo, ya, kan?”,rasa penasaran Rena membuatnya jadi semakin
menjadi-jadi.
“Bukan,
lagi. Itu namanya kena karma, bukan munafik!”,jawab Bagas.
Rena
tertawa terbahak-bahak.
“Jadi
maksud lo, lo kena karma gara-gara bilang nggak suka sama fakultas yang lo
ambil, gitu?”.
“Iya,
lah. Emang apa lagi yang ngebuat gue tiba-tiba suka kalo nggak karena
karma?”,balas Bagas.
“Emang
ada yang begituan?”,tanya Rena.
“Kalo
lo udah ngalamin sendiri, nggak bakal deh lo tanya gitu!”,jawabnya.
Mereka
terus saja memperbincangkan hal yang paling unik yang pernah mereka alami.
Sampai-sampai Rena tidak bisa berhenti tertawa karena kecerdasan Bagas membuat
banyolan-banyolan seru. Ia jadi sakit perut mendengarkan ocehan Bagas yang
ternyata pandai ngebanyol itu.
Nggak
sangka, anak yang gue kira jaim justru nggak punya sisi jaim sekali pun. Kalo
gue tahu dia bakan segila ini, besok-besok gue harus siap mental, nih. Jangan
sampai gue jadi ketularan bayolan dia! Rena terus berkomentar dalam hati.
Tanpa
terasa, sudah satu jam mereka berbincang. Rena pun tidak ingat kalau ada janji
dengan Veda di kantin untuk pulang bareng. Veda yang dari tadi menunggunya pun
akhirnya meneleponnya. Dengan segera ia mengangkat telepon dari sahabatnya itu.
Lalu terdengar guntur memekakan telinga.
“Oh, iya, lupa gue! Ya udah, gue on the way kesana nih”,jawab Rena. Ia
pun berpamitan kepada Bagas dan pergi juga ke kantin. Bagas juga pergi, tapi
berlawanan arah dengan kepergian Rena.
Di
kantin Rena melihat sahabatnya menunggunya dengan memasang tampang cemberut.
Matanya sipit dan seolah-olah siap memaki bahkan menghantamnya dengan pukulan
yang sangat tajam. Rena pun tersenyum ke arahnya untuk menghilangkan
ketegangan.
“Lama banget, sih? Udah tahu malam Minggu,
kost kita sepi nih. Harus buru-buru pulang sebelum Mbak Rini berangkat
kerja”,omelnya pada Rena.
“Iya, sorry, deh. Gue keasyikkan ngobrol sama Bagas”,ujar Rena.
Veda pun berdiri dan mereka
mengobrol sepanjang perjalanan pulang.
“Bagas yang anak teknik?”,tanya Veda
heran bercampur lucu. Ia tidak tahu sahabatnya dapat angin dari mana sampai
bisa mengobrol dengan Bagas anak teknik yang dimaksudnya itu. Padahal Rena
pernah bilang kalau dia alergi dekat-dekat dengan anak itu selama lebih dari
satu menit.
“Lo kayaknya sama aja, deh sama
Pandu. Emangnya yang namanya Bagas di dunia ini cuman Bagas itu doang?”,protes
Rena.
Veda berusaha menahan tawanya.
Pipinya sampai menggembung karena saking kuatnya ia menahan tawa.
“Ya, nggak sih. Emang Bagas siapa?
Gue belum pernah denger tuh temen lo yang namanya Bagas selain..”.
“Bagas anak teknik”,potong Rena.
“Udah
deh, ya. Pikiran lo cuman dia mulu! Bagas yang gue maksud ini Bagas yang lain. Dia
itu cowok yang ketemu sama gue di rumah sakit kemarin. Yang gue ceritain sama
lo”,Rena menyedekapkan lengan. Berusaha memancing minat sahabatnya oleh cerita
yang selalu diulang-ulangnya beberapa kali. Veda sampai bosan mendengarnya.
“Dia ngampus disini juga?”,tanya
Veda sedikit heran.
“Fakultas Ekonomi, tahu”,jawab Rena
bangga.
“Oh, ya? Hebat, dong!”,pujinya.
“Nada lo kayak nggak ikhlas
gitu?”,kata Rena memandang Veda dengan mata sipit. “Itu pujian apa ledekan?”.
Pertahanan Veda pecah. Ia akhirnya
menyuarakan tawanya. Rena paling benci mendengar itu. Sebuah ledekan yang
diawali dengan pujian.
“Enggak, gue tuh justru bersyukur
lagi lo bisa dapet kenalan juga. Jadi kita bisa sama-sama punya pacar.
Syukur-syukur kalo jadiannya bareng, deh”,angan Veda.
“Kebanyakan ngayal, lo. Orang kenal
aja baru tadi pagi, udah mikir pacaran”,kata Rena.
“Siapa tahu?”.
Mereka mendapatkan angkot dan ketika
sampai di depan kost, keduanya segera menemui Mbak Rini lalu meminta kunci
rumah utama. Mbak Rini pun memberikannya pada mereka dan lekas berangkat kerja
agar tidak terlambat.
Sabtu memang hari di mana mereka
harus puas dengan kesendirian mereka. Sebab, kost sepi karena penghuninya pada
pulang kampung serta ada juga yang berkencan dengan pacar-pacarnya. Rena dan
Veda yang memang tidak punya pacar dan jarang pulang kampung karena ingin
mengirit biaya, memilih tinggal di kost berdua sambil menikmati suasana malam
minggu di kost yang sepi mamring itu. Sudah seperti rutinitas yang mereka
jalani. Kadang ada Bi Inem yang ikut kumpul bareng mereka, kalau Bi Inem udah
tidur ya mereka menghabiskan malam minggu berdua. Biasanya nonton drama korea,
kalo nggak ya main game di kamar. Itu-itu saja yang mereka lakukan selama satu
tahun lebih ini.
Tapi, Veda baru ingat kalau hari ini
ia ada janji untuk bertemu dengan temannya yang akan membahas tugas mereka.
Veda pun lekas mandi dan ganti baju serta berpamitan kepada Rena. Yang terakhir
jadi sedih karena harus di rumah bersama Bi Inem. Menerima keadaan tersebut, ia
mengajak Bi Inem menonton drama korea.
Veda
berangkat pukul lima sore dan meninggalkan Rena bersama Bi Inem di rumah kost.
Sepeninggal Veda, Rena menghabiskan
waktunya di depan televisi untuk menonton drama Korea kesukaannya. Sambil
menyiapkan tissue seadanya, ia sesekali mengusap air mata yang menetes seirama
dengan musik yang diputar pada drama itu. Kisahnya yang romantis dan
mengharukan selalu dinanti-nanti oleh para penggemar. Tak lupa pemainnya yang
juga kinclong-kinclong itu. Rena paling suka, tuh cowok yang kayak pemain film
Korea.
Ia
memperhatikan layar televisi dengan cermat. Sungguh menyedihkan, seorang cowok
meninggalkan ceweknya demi perempuan lain yang merupakan bosnya. Hati cewek
tersebut tersayat-sayat sembilu. Entah mengapa cewek itu tidak menangis.
Mungkin karena air matanya sudah kering karena saking seringnya ia menangis,
atau mungkin karena sudah seringnya ia mengalami hal seperti itu. Rena pun
membayangkan jika dirinya adalah cewek itu.
Gimana ya kalo gue jadi cewek itu?
Menghabiskan setiap harinya dengan merenung tanpa setetespun air mata yang
tumpah membasahi wajah. Meratapi nasib karena punya cowok terus cowok itu suka
sama bosnya. Tapi, yang bikin dia tambah nangis adalah karena cowok itu nggak
ada, dia nggak punya cowok. Lalu dia membayangkan cowok itu adalah Bagas.
Kalo Bagas kayak gitu gimana, ya? Apa gue
musti kehilangan cowok yang se-perfect dia? Air mata Rena semakin membanjir
membayangkannya. Padahal ia belum yakin kalau Bagas memang akan menjadi
kekasihnya. Kenal aja belum ada beberapa jam, kok sudah memikirkan sejauh itu.
Bi Inem memperhatikan Rena dengan
bingung. Dirinya yang dari tadi melongo karena tidak mengerti bahasa Korea
sedangkan terjemahannya begitu cepat menghilang sementara dia tidak bisa
membaca dengan cepat, mulai bingung, dikiranya Rena menangis karena ditinggal
cowoknya beneran.
Ia pun berkata di antara alunan lagu
yang berputar. Seperti penyejuk dalam irama yang mengalun lembut.
“Non Rena, ndak usah nangis. Biarin kalo cowoknya Non mau ninggalin Non. Kan
masih buanyak cowok lain di dunia ini. Ndak
cuman pacar Non”,kata Bi Inem, menenangkan Rena dengan usapan lembut di
lengannya.
“Siapa sih, Bi, yang nangis
gara-gara ditinggal pacar”,jawabnya sesenggukkan “Tuh”,ia pun menunjuk layar televisi. Bi Inem
mengikuti jari telunjuk Rena.
Bi Inem pun mengerti lalu dalam hati
ia mengomentari, “Lihat pilem kayak gitu aja nangis. Ndeso. Anak kampung aja ndak segitu noraknya”.
Setelah beberapa menit ia melihat
film tersebut dan sudah merasa bosan, ia pun pergi ke dapur untuk menyiapkan
makan malam. Rena hanya melihatnya sekilas, lalu terpaku kembali ke layar
televisi.

0 comments:
Post a Comment