Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan di pintu. Rena buru-buru mengusap air matanya dan mengembalikan tissue ke kamarnya. Ia pun segera memutar kunci pintu dan membukanya pelan.
Di depan pintu berdiri seorang wanita yang tidak lain adalah Mbak Rini, anak pemilik kost yang dihuninya tersebut.
“Sendirian, Ren?”,tanyanya tanpa menghentikan langkah. Ia segera masuk dan duduk di depan televisi sambil melepas sepatunya.
“Iya, Mbak. Veda lagi keluar”,jawabnya tanpa beranjak.
Rena yang masih berdiri di dekat pintu pun berjalan menuju motornya Pak Salim yang diparkir di dekat tembok rumah bagian kiri. Ia melihat ke spion, memperhatikan apakah matanya bengkak karena menangis atau tidak. Karena ia malu kalau sampai terlihat oleh Mbak Rini. Bisa diledek sampai tujuh turunan, nih!
Ketika sedang asyik mengaca, ia melihat seseorang yang sedang berjalan di depan rumah kostnya. Cowok yang dikenalnya. Bagas. Ya, dia Bagas. Rena pun buru-buru menghampiri pagar dan menyapanya.
“Hey, kok bisa nyampek sini?”,serunya. Ia tersenyum ke arah cowok itu.
Tapi cowok itu celingukan lihat kiri kanan dan ke belakang. Lalu ia berkata, “Ngomong sama saya?”.
Rena heran beberapa saat. Itu kan Bagas, kok jadi aneh? Kayak nggak ngenalin gue? Apa gue beda ya kalo udah ada di rumah gini? Ia pun meraba pipi dan anggota tubuh yang lain. Pantesan masih sama, deh!
“Iya, sama lo. Kok ada disini?”,katanya tetap yakin bahwa orang yang ada di depannya itu Bagas.
“Sorry, lo kenal sama gue?”,tanyanya tidak mengerti.
“Loh? Lo lupa sama gue?”,Rena balik bertanya.
Cowok yang dikenalinya sebagai Bagas itu merasa aneh dengannya. Nih cewek, kenal juga enggak, tapi dari tadi senyum mulu. Jangan-jangan gila?
Ia pun bergegas pergi sebelum ditanyai Rena lebih lanjut.
“Hey, kok malah pergi sih?”,teriak Rena.
Cowok itu tidak menengok sama sekali. Ia tetap berjalan lurus ke depan tanpa menggubris teriakan Rena. Akhirnya Rena cuma melongo dan masuk ke dalam rumah.
*****
Veda masih menunggu bus di halte setelah bertemu dengan Albi dan Siska di Golden Caffe. Mereka berdua sudah pulang terlebih dahulu karena membawa motor, sementara Veda yang berangkat naik bus harus terima pulang dengan bus lagi. Ia mulai membuka-buka buku yang dibawanya.
Saat ia ingin membaca buku, justru ia tidak bisa konsentrasi. Dalam hatinya ia selalu berandai-andai, andai saja ada seorang cowok, ya, cowok itu, yang datang menghampirinya saat ini dan mengantarkannya pulang. Pasti ia tidak perlu menunggu bus lama-lama. Apalagi cowok itu mengajaknya jalan-jalan sebentar, mumpung masih jam tujuh. Karena pagar kost akan dikunci pada pukul sembilan malam. Itu sudah peraturan. Dan ia tetap mengingatnya sampai sekarang.
Maka Veda harus menikmati waktunya di halte saat itu. Ia yang dari tadi berdiri akhirnya duduk sambil membuka dan membaca novel yang tadi dipinjamnya di perpustakaan. Lima belas menit kemudian ia mendengar sebuah motor mendekat. Ia mengira itu motor seorang tukang ojek yang akan menawarinya tumpangan berbayar sampai ke rumah kost. Segera saja ia memasukkan novelnya ke dalam tas dan beranjak dari posisi duduknya. Eh, saat ia melihat ke arah motor itu, ternyata motornya seorang bapak-bapak. Mana genit, lagi!
Cliingg...ucap mata bapak itu, seolah bersuara. Dan Veda memang membayangkannya seperti itu. Lalu ia bergidik.
Akhirnya ia duduk lagi di tempatnya semula. Ia pun mengambil bukunya lagi dan meneruskan ke halaman berikutnya. Sedang asyik membaca, ia diganggu oleh suara motor lagi. Ia tidak mau terjebak lagi, pasti bukan suara tukang ojek. Veda tidak bergeming, ia tetap melanjutkan membacanya.
Tapi, suara motor itu kian berisik. Ia sampai terganggu oleh suaranya yang semakin di gas itu. Mentang-mentang bawa motor, mau seenaknya saja mengganggu hak asasi manusia seorang Veda yang tengah membaca, gerutunya.
Veda pun mengangkat wajahnya dan hendak menegur orang itu. Ketika ia melihat wajah orang itu, ekspresi wajahnya sendiri berubah. Ia pun menelengkan kepalanya sedikit, merasa tidak percaya.
“Kita ketemu lagi”,kata orang itu menghentikan motornya.
“Kok kamu bisa ada disini?”,kata Veda, salah tingkah.
Cowok itu pun melepas helmnya dan turun dari motornya lalu berjalan menghampiri gadis itu. Ia duduk di samping Veda.
“Abis pulang dari rumah temen lewat sini, eh ngeliat kamu”,ujarnya tanpa memalingkan wajah dari Veda.
Veda tidak bisa menjawab. Speechless. Melihat wajah cowok ini saja hatinya sudah bergetar, bagaimana kalau diajak mengobrol begini? Bisa-bisa pecah berkeping-keping saking bahagianya. Akhirnya ia hanya manggut-manggut sambil tersenyum.
“Nungguin bus, ya?”,tanyanya.
“Iya, nih. Udah setengah jam aku nunggunya”,jawab Veda agak canggung.
“Kalo ditungguin lama. Mendingan pulang sama aku. Aku mau nganterin kamu”,ia menawarkan diri.
“Aduh, gimana, ya? Nggak ngerepotin kamu, Zal?”,Veda makin sungkan dengan cowok itu. Dari dulu selalu menawarkan untuk mengantar pulang.
Cowok yang dipanggilnya Rizal itu menjawab,“Nggak kok. Yuk, bareng aja”.
Veda pun akhirnya menurut. Rizal mengambil helm yang ada di jok motornya dan menyerahkannya pada Veda. Veda memakainya dan mereka melaju menuju kost Veda. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Hanya beberapa kali mengobrol karena Rizal tidak tahu arah rumah Veda.
Sampai di gang rumah kostnya, Veda minta berhenti. Ia pun turun dan menyerahkan helm kepada Rizal.
“Nggak enak sama tetangga kalo dianterin cowok”,kata Veda.
“Oh, jadi rumah kamu di daerah sini? Aku punya temen loh, di sekitar sini!”,kata Rizal tersenyum ke arahnya.
“Oh, ya? Siapa?”,tanya Veda.
“Ada deh”,jawab Rizal sambil tertawa.
Kalau lagi tertawa, Rizal emang terlihat manis. Dan Veda mengakuinya.
“Ah, pasti cewek, ya?”,Veda sedikit penasaran.
“Bukan kok”,kata Rizal.
“Udah, sana pulang, nggak enak juga kita ngobrol disini”,lanjutnya.
“Iya, deh. Kamu juga hati-hati ya kalau pulang”,pesan Veda.
Sebelum pulang ke rumah masing-masing, mereka saling melempar senyum. Dan akhirnya Rizal melaju di jalanan. Veda pun berjalan ke arah rumah kostnya. Bi Inem membukakan pintu untuknya.
“Rena mana, Bi?”,ucapnya pertama kali ketika sudah masuk rumah.
“Di kamar, Non”,jawabnya.
Veda pun pergi ke kamar Rena. Ternyata Rena tidak ada di kamar. Ia mencarinya, sampai akhirnya ketemu di lantai atas, di kamar Mbak Rini. Mereka berdua sedang menonton film.
“Aduh, gue cariin ternyata lo ada disini”,seru Veda di depan pintu kamar Mbak Rini.
Mbak Rini memang selalu membuka pintu kamarnya kalau ada temannya yang sedang masuk. Ia pun tersenyum dan mempersilakan Veda untuk masuk.
Kamar Mbak Rini sangat luas. Ada dua lemari pakaian di kamarnya yang ditempatkan berjajar di dekat pintu kamar. Ada juga meja rias yang berjarak dua setengah meter dari pintu, dan televisi serta meja kerja berurutan di sebelahnya. Ranjang Mbak Rini berada di tengah-tengah ruangan tapi dekat sekali dengan tembok bagian ujungnya.
Mbak Rini juga memiliki bermacam-macam koleksi aksesoris yang pernah ditunjukkannya dulu. Sekarang aksesories tersebut tergantung rapi di tempatnya, di sebelah meja rias. Selain itu, Mbak Rini hobi sekali beli baju. Jadi, lemari pakaiannya ada dua. Rena saja sampai iri dibuatnya.
Kamar Mbak Rini ini selain bersih dan rapi juga wangi, selalu disemprot pengharum ruangan, nih. Itulah yang membuat setiap penghuni kost betah di kamarnya setiap kali diajak nonton film VCD. Tak terkecuali Rena dan Veda.
“Kamu tadi dari mana Ved?”,tanya Mbak Rini setelah Veda duduk di dekatnya.
“Dari Golden Caffe, ngerjain tugas, Mbak. Maklum, lagi banyak tugas, bikin puyeng”,jawabnya sembari memegangi kepalanya dan berlagak pusing.
“Kamu baru kuliah aja udah pusing, Ved. Lihat aja nanti di dunia kerja kamu bakal lebih pusing lagi!”,ujar Mbak Rini.
“Wah, ternyata ada yang lebih pusing daripada ngerjain tugas kuliah”,Veda pura-pura mengeluh.
“Ya itu namanya hidup. Kalo udah puyeng, kita bakal lebih puyeng lagi. Tinggal kamu aja yang milih puyeng atau enggak. Tapi kalo aku sendiri sih lebih milih yang puyeng, Ved”,Mbak Rini menjelaskan. Matanya tetap fokus pada film yang sedang ia tonton.
Veda membalasnya dengan senyum.
“Kenapa Mbak milih jadi puyeng? Kan capek kalo lama-lama puyeng!”,komentar Veda.
Mbak Rini pun menoleh ke arahnya.
“Ini, nih. Anak muda sekarang pasti pikirannya cupet gini. Aku jelasin, ya, semakin kamu puyeng, semakin kamu ngerasain sensasi kehidupan”,jawab Mbak Rini sungguh-sungguh. Ia memperhatikan layar televisi lagi.
Rena dari tadi diam menikmati film yang sedang diputar di layar televisi. Rena memang penggemar film. Dia bisa menonton film berapapun dalam sehari. Pinjam VCD di rental aja bisa sampai lima. Tapi, dia baru bisa nonton kalau Mbak Rini udah pulang, soalnya yang punya DVD kan cuman Mbak Rini di rumah itu. Dia pun memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, berhubung mood anak pemilik kost itu sedang baik. Kalo lagi stress masalah pekerjaan dia suka ngamuk. Kadang sama Bi Inem, sama Dewi yang sukanya pasrah kalo dimarahin, dan yang terakhir sama Pak Salim. Kasihan juga korban-korbannya. Tapi, Mbak Rini kalo lagi baik juga baik banget. Sayang aja pas mood nya nggak enak, dia jadi beringas.
“Pulang sama siapa kamu tadi, Ved?”,tanya Mbak Rini masih fokus pada film yang sedang ditontonnya.
Veda yang diberi pertanyaan seperti itu langsung menunduk malu. Pipinya jadi merah. Jadi salah tingkah seperti tadi saat ditemui Rizal di halte.
“Kok diem? Hayoo, pasti ada sesuatu nih”,ulang Mbak Rini setelah menunggu jawaban Veda beberapa saat.
“Apaan sih, Mbak. Nggak ada apa-apa kok”,jawab Veda menyembunyikan pipi merahnya.
Rena yang sejak tadi asyik menikmati film, tiba-tiba menoleh ke arah Veda. Dengan berpura-pura kaget, ia melihat ke arah temannya.
“Lo dianterin sama pujaan hati lo yang di Facebook, Ved?”,tebaknya. Rena memang gampang sekali menebak sesuatu. Sesuatu yang justru dilontarkan dari mulutnya secara spontan adalah jawaban yang tepat bagi orang lain yang memberinya pertanyaan.
Veda tidak bergeming sampai akhirnya kedua gadis itu, Rena dan Mbak Rini menatap tajam ke arahnya serta memancingnya untuk bercerita.
“Iya, deh gue ngaku. Iya”,jawabnya. Nggak ada pilihan lain, ngaku aja.
“Hah..so sweet. Gue juga mau dong kayak gitu”,Rena memasang tampang sok berharap. Mbak Rini hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
“Kalian ini, udah pada pacaran”,kata Mbak Rini tetap memperhatikan layar televisi.
“Bukan pacaran, Mbak. Tapi pedekate, pendekatan lah”,sahut Rena tidak terima.
“Pedekate kan awal dari pacaran, Ren”,bantah Mbak Rini.
“Iya, deh ngalah sama yang tua”,katanya mencibir ke arah Mbak Rini.
“Ih, ngeledek. Tua-tua begini, yang penting kan jiwanya muda”,balasnya.
Semua anak kost memang akrab dengan Mbak Rini. Sifatnya yang gampang membaur dengan lingkungan itu membuatnya disegani banyak orang. Mbak Rini juga tidak pelit kalau dimintai tolong. Pokoknya Veda dan Rena sudah menganggap Mbak Rini sebagai kakak mereka sendiri, begitupun sebaliknya, meskipun mereka baru kenal kurang lebih satu tahun yang lalu.
“Oh, iya, Ved. Gue tadi ketemu Bagas di depan. Tapi kok kayak nggak ngenalin gue gitu, ya?”,lanjut Rena.
“Masa sih? Kok aneh gitu?”,Veda memperhatikan sahabatnya. Rena kalau lagi mikir emang lucu, suka bergerak-gerak gitu bibirnya. Itu juga yang membuat Veda tertarik untuk memperhatikannya.
Sementara kedua sahabat karib itu mengobrol, Mbak Rini ganti memelototi layar televisi untuk menyaksikan kelanjutan film yang ditontonnya bersama Rena tadi. Ia sudah biasa ditinggal ngobrol begitu. Yang penting nggak ditinggal pergi aja, deh. Dia paling takut kalau hal yang satu itu. Biasanya ada Maya yang kamarnya berdekatan dengan kamar Mbak Rini. Tapi sekarang Maya lagi pulang kampung. Jadi, Mbak Rini sendirian di kamar sepanjang malam. Itu yang membuatnya nggak bisa tidur.
“Iya, padahal kan tadi siang di kampus kita ngobrol bareng. Gue nggak yakin kalo dia amnesia!”,kali ini Rena mengusap-usap dagunya. Seperti seorang detektif yang memikirkan metode apa yang harus digunakannya dalam memecahkan masalah.
“Lo juga ada-ada aja. Mana ada orang amnesia dalam sekejap. Kan dia nggak mengalami kecelakaan atau apa!”,Veda sok bijak. Menerangkan dengan gayanya yang dibuat-buat.
“Emang, makanya, gue aneh aja. Apa dia emang punya penyakit pelupa, ya?”,katanya sambil mengacungkan jari telunjuknya.
“Pelupa sih pelupa, tapi kalo masih muda terus gampang lupa dalam waktu sehari, itu namanya pikun, Ren”,timpal Veda.
Veda tertawa. Mbak Rini yang mendengarnya ikut tertawa juga.
“Berarti dia orang muda yang paling cepat punya penyakit pikun”,sahut Mbak Rini. “Jangan-jangan ubannya udah bejibun lagi”.
Tawa mereka semakin menjadi-jadi. Anehnya, Rena sama sekali tidak tertawa. Ia justru semakin keras berfikir. Seperti memikirkan ulangan fisika yang satu soal pun tidak bisa dikerjakannya.
“Masa sih dia pikun?”,Rena berfikir.
“Mana gue tahu. Udah yuk, kita ke kamar. Nanti malah ganggu Mbak Rini, lagi”,ucap Veda.
“Nggak papa, kok. Ngobrol aja. Lagian aku juga nggak ada temennya”,jawab Mbak Rini.
“Asyik tahu ditemenin kalian berdua. Jadi nggak kesepian aku”,sambungnya.
“Yaudah, deh. Kita temenin Mbak Rini”,kata Rena dan Veda serempak seperti menyambut bintang tamu yang akan menari tor-tor.
Mereka bertiga menghabiskan malam minggunya dengan bermain monopoli di kamar Mbak Rini sampai esok paginya mereka ketiduran di kamar wanita itu.
Paginya, Veda dan Rena kembali ke kamar masing-masing. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Mereka melanjutkan tidur di kamar. Setelah pukul sembilan pagi, baru Veda bangun kemudian mandi. Badannya segar kembali setelah dibasuh dengan air dingin dari kamar mandi.
“Wah, Rizal pagi-pagi udah online aja”,gumam Veda pada saat ia selesai mandi dan menyalakan komputernya. Rambutnya yang masih basah dibungkus dengan handuk.
Ia melihat ke layar. Disitu terpampang jelas sebuah foto. Foto Rizal yang sedang berdiri di sebuah jembatan bersama teman-temannya. Baru saja diupload. Mereka masing-masing bergaya sesuka hati. Ada yang alay, biasa aja, setengah cool, dan yang paling cool pun ada disitu. Tapi, bagi Veda, hanya gaya Rizal saja yang keren alias cool.
Cowok ini keren banget, makannya apa sih? Komentar Veda dalam hati. Ingin rasanya ia membagi cerita bersama Rena. Namun, ia takut kalau nanti dipublikasikan malah nggak jadi. Kayak dulu waktu sama Andi. Udah serius sama dia tapi malah diselingkuhin. Makanya Veda nggak mau cerita sama siapa-siapa kalo dia lagi deket sama cowok. Nanti udah diceritain kemana-mana malah nggak jadi. Ia sudah belajar dari pengalamannya yang lalu dengan Andi.
Pokoknya gue nggak mau inget-inget tuh cowok, si Andi! Selalu hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya setiap kali ia ingat namanya. Malah rasa kebenciannya semakin mendalam. Selalu ia pupuk sampai akar-akarnya loncat keluar dan tumbuh setinggi-tingginya. Untung saja sampai sekarang ia sudah tidak mendengar kabar dari cowok itu lagi. Ia bersyukur sekarang Andi sudah seperti hilang di telan bumi dan tidak muncul di hadapannya lagi.

0 comments:
Post a Comment